Biografi Abu Tumin Blang Blahdeh

 


"Biografi Singkat Abu Tumin Blang Bladeh"

Abu Tumin lahir dari keluarga ulama dan pemuka masyarakat. Ayahnya Teungku Tu Mahmud Syah adalah ulama, tokoh masyarakat dan pendiri dayah. 

Semenjak kecil Abu Tumin telah dipersiapkan untuk menjadi seorang ulama yang paripurna. Mengawali pengembaraan ilmunya, Abu Tumin pernah mengecap pendidikan umum pada masa Belanda selama tiga tahun. 

Setelah kemerdekaan, Abu Tumin dalam usianya 12 tahun dimasukkan ke Sekolah SRI, sekolah yang memiliki bahan ajaran yang memadai dalam bidang agama. Sambil bersekolah di SRI, Abu Tumin juga belajar langsung pada ayahnya ilmu-ilmu keislaman, terutama dasar-dasar kitab kuning dan ilmu alat seperti nahwu dan sharaf.

Selama lebih kurang tiga tahun Abu Tumin belajar dengan sungguh-sungguh kepada ayahnya Teungku Tu Mahmud Syah yang juga ulama, telah memberikan bekal ilmu yang memadai untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya. 

Pada usianya 15 tahun, mulailah Abu Tumin belajar dari satu dayah ke dayah lainnya hingga berakhir di Labuhan Haji Darussalam dengan gurunya Syekh Muda Waly al-Khalidy.

Abu Tumin pernah belajar beberapa bulan di Dayah Darul Atiq Jeunieb yang dipimpin oleh Abu Muhammad Saleh yang merupakan ayah dari Abon Samalanga. 

Setelah beberapa bulan di Dayah Jeunieb, Abu Tumin kemudian melanjutkan pengajiannya ke Dayah Samalanga dalam beberapa bulan juga, kemudian beliau belajar di Dayah Meuluem Samalanga selama satu tahun, dan terakhir di Dayah Pulo Reudep yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Pulo Reudep selama tiga tahun sebelum ke Labuhan Haji. 

Maka dengan bekal ilmu yang memadai dari guru-guru itulah yang mengantarkan Abu Tumin muda dalam usianya 20 tahun berangkat ke Dayah Darussalam Labuhan Haji Aceh Selatan pada tahun 1953. Selain Abu Tumin, di tahun 1953 beberapa ulama lainnya juga tiba di Labuhan Haji untuk belajar pada Abuya Syekh Muda Waly. 

Karena umumnya teungku-teungku yang belajar kepada Abuya, telah memiliki ilmu yang memadai sebelum belajar ke Abuya, sehingga bisa duduk di kelas khusus Bustanul Muhaqqiqin. 

Di antara ulama-ulama yang datang pada tahun 1952 dan 1953 adalah Abu Abdullah Tanoh Mirah yang kemudian mendirikan Dayah Darul Ulum Tanoh Mirah yang dikenal dengan kealimannya dalam bidang ushul fikih. 

Ulama lainnya adalah Abon Abdul Aziz Samalanga yang melanjutkan kepemimpinan Dayah MUDI Samalanga setelah wafat mertuanya Abu Haji Hanafiyah Abbas yang dikenal dengan Teungku Abi.

Abon Abdul Aziz Samalanga dikenal ahli dalam ilmu mantik atau ilmu logika. Sedangkan Abu Keumala datang lebih awal ke Dayah Darussalam Labuhan Haji, dan Abu Keumala dikenal ahli dalam ilmu tauhid, mengabdikan ilmunya di Medan Sumatera Utara hingga wafatnya pada tahun 2004. 

Selain menjadi murid Abuya Syekh Haji Muda Waly di Darussalam, Abu Tumin juga telah dipercaya untuk mengajarkan para santri lain yang berada pada tingkatan tsanawiyah, karena beliau disebutkan mengajar santri di kelas 6 B, adapun di kelas 6 A diajarkan langsung oleh Abuya Muhibbudin Waly, sedangkan Syekh Muda Waly al-Khalidy mengajarkan kelas dewan guru. 

Ketika di Darussalam Labuhan Haji, Abu Tumin sekelas dengan Abu Hanafi Matang Keh, Teungku Abu Bakar Sabil Meulaboh dan Abu Daud Zamzami Ateuk Anggok. 

Sedangkan Abu Abdullah Tanoh Mirah dan Abon Samalanga lebih tinggi satu tingkat di atasnya. Abu Tumin belajar dan mengajar di Labuhan Haji selama 6 tahun, beliau juga murid khusus di kelas Bustanul Muhaqqiqin belajar langsung kepada Abuya Haji Muda Waly.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Dayah Darussalam Labuhan Haji, Abu Tumin kemudian memohon izin kepada gurunya untuk pulang kampung pada tahun 1959 untuk mengabdikan ilmunya. 

Sedangkan temannya seperti Abon Samalanga pulang kampung setahun sebelumnya pada tahun 1958 dan Abu Tanoh Mirah pulang di Tahun 1957. Umumnya murid-murid Abuya yang datang di atas tahun 1952 dan 1953 pulang di akhir tahun1959.

Sedangkan generasi sebelum Abu Tumin yang datang ke Darussalam pada tahun 1945 dan 1947, mereka umumnya pulang di tahun 1956 seperti Abuya Aidarus dan Abu Syamsuddin Sangkalan.

Setibanya di Kampung halaman, setelah belajar di berbagai dayah terutama Dayah Darussalam Labuhan Haji telah mengantarkan Abu Tumin menjadi seorang ulama yang mendalam ilmunya.

Abu Tumin memimpin dayah yang telah dibangun oleh kakek beliau yaitu Teungku Tu Hanafiyah yang kemudian dilanjutkan oleh Teungku Tu Mahmud Syah ayah Abu Tumin, selanjutnya estafet keilmuan dan kepemimpinan dayah dilanjutkan oleh Abu Tumin. 

Pada era Abu Tumin mulailah pesat pembangunan Dayah tersebut. Dimana para santri datang dari berbagai tempat untuk belajar kepada Abu Tumin dan belajar dari sang ulama. 

Abu Tumin juga merupakan seorang ulama yang murabbi, sehingga banyak muridnya yang menjadi ulama terpandang sebut saja di antaranya adalah Abu Mustafa Paloh Gadeng yang belajar kepada Abu Tumin selama 19 tahun sehingga mengantarkan beliau menjadi seorang ulama kharismatik Aceh yang diperhitungkan. 

Ulama lainnya yang juga murid Abu Tumin adalah Abu Abdul Manan Blang Jruen yang dikenal sebagai ulama yang ahli dan lihai dalam bidang tauhid, serta moderator yang hebat dalam muzakarah para ulama Aceh, sehingga diskusi nampak ceria dan bersemangat. 

Dan banyak para ulama lainnya yang juga murid dari Abu Tumin, selain murid-muridnya di Dayah Darussalam dulu. 

Dan di sebuah acara muzakarah, Abuya Mawardi Waly juga menyebutkan dirinya sebagai murid Abu Tumin. Intinya Abu Tumin juga ulama yang Syekhul Masyayikh. 

Bahkan Abu Daud Teupin Gajah atau Abu Daud al Yusufi yang merupakan ulama kharismatik Aceh Selatan juga termasuk murid yang lama belajar kepada Abu Tumin dimana sebelumnya beliau belajar kepada Abuya Haji Jailani Kota Fajar.

Selain itu, Abu Tumin juga dianggap sebagai ulama panutan oleh para ulama lainnya, dimana fatwa-fatwa hukumnya menjadi bahan kajian dan pegangan para ulama lainnya. 

Biasanya pada setiap muzakarah yang diadakan di berbagai tempat, Abu Tumin yang kemudian mengambil keputusan terakhir, setelah sebelumnya para ulama lain memberikan pandangan dan sanggahan atas setiap persoalan yang sedang dibahas forum.

Kehadiran Abu Tumin menambah acara muzakarah semakin bermakna, karena pandangan hukum beliau biasanya dari ingatan yang lama dan kajian yang mendalam. 

Sehingga tidak mengherankan bila ada yang menyebutkan bahwa "Abu Tumin tua umurnya dan tua pula ilmunya".

Abu Tumin telah mempersembahkan segenap usianya untuk agama ini, dan telah pula mencurahkan segenap ilmu dan pengabdiannya, mengayomi masyarakat Aceh secara tulus ikhlas. Dan hari ini beliau telah kembali kehadhirat Allah SWT. 

Semoga Allah SWT menempatkan beliau di surga tertinggi bersama para Anbiya, Syuhada dan Shalihin.

Innalillahi Wainna Ilaihi Raji'un. 

Selamat Jalan Guru Yang Mulia ABU TU. 

Ditulis:

Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary

Kumpulan Pantun Aceh


Assalamualaikum. Berikut berhasil admin kumpulin beberapa pantun Aceh yang hampir punah di telan masa.. semoga bisa membantu.. 

Aneuk ticem tingeh di mayang,
Aneuk musang tingeh meu canda,
Kahana neujak u laot lapang,
Neupakat ayank u laot jangka.

Lon kliek lon khem leumah boh drien,
Sidumnan yakin sangat kuhawa,
Kakeuh han jadeh ulon bloe sikin,
Lon cok siguling lon peluk aja.

Sambil pingsan denger lagu,
Judul sesuatu syahrini dendang,
Biar gak merah mata neuh sayu,
Kajeud tidur ju bekle bergadang.

Menyoe pesbuk sudah candu,
Barang tentu kebutuhan,
Bangun tidur cek hape dulu,
Mati lampu kesusahan.

Eungkoet masen mata nya batu,
Ikan garpu merah pantat nya,
Menyoe bit galak adek padaku,
Yg geukheun lop yu peu makna nya.

Hakikat merdeka bukanlan negri,
Merdeka diri dari api neraka,
Bak kalen drambend mata dum teubli,
Ucoeng bak giri leuhoe ngen asa.

Meulinte aqua sedang,
Ayah tuan keu teh poci,
Male hate wate ta bayang,
Bak yah tuan yu bloe boh giri.

Teumon bu neu pajoh labang,
Menyoe pisang peunajoh banci,
Laba tujoh blah aqua sedang,
Dosa meukarang ban boh jok jibi.

 Bersambung

Kisah Hantu Lembah Seulawah Jembatan Kembar Seunapet

Bicara misteri jurang Seunapet yang berlokasi di Lembah Seulawah, Aceh Besar, tidak bisa dipisahkan dengan kisah hantu Halimah yang konon katanya kerap menggganggu para pelintas jalan. Menurut sumber yang layak dipercaya dan dibarengi dengan penerawangan gaib tim investigasi hantu Aceh, bahwa kehadiran sosok perempuan cantik nan misterius di jurang itu berawal dari sebuah kisah pilu puluhan tahun lalu.

Kisah ini diawali dengan sebuah peristiwa pembunuhan terhadap seorang gadis muda oleh beberapa pemuda yang sedang dimabuk syahwat. Kisah itu terjadi pada tahun 1980-an. Berikut kisahnya.

Cerita ini mengalir begitu saja dari sosok Halimah yang berhasil ditemui oleh tim investigasi hantu Aceh. Dialog batin itu berlangsung selama satu jam. Untuk menghindari kesan horor, penulis hanya menguraikan pokok bahasan saja.

Perempuan yang mengaku saat dibunuh masih berusia 18 tahun, bercerita bahwa pada suatu hari dia sedang dalam perjalanan pulang kerumah. Kondisi jalan negara Medan-Banda Aceh sepi. Tiba-tiba sebuah mobil kijang petak melintas. Mobil itu kemudian berhenti di depan Halimah.

Tanpa ba bi dan bu, beberapa lelaki yang diperkirakan berusia tidak terpaut jauh dengan dirinya, turun dari mobil. Mereka langsung menyeret Halimah kedalam mobil. Perempuan malang itu sempat berteriak minta tolong. Namun siapa pula yang akan menolong ditempat sepi seperti itu. Sebuah tinju kemudian membuat perempuan itu hilang kesadaran.

Dia tidak tahu dimana pastinya. Yang dia sadari bahwa selangkangannya terasa nyeri. Sakitnya luar biasa. Ketika dia membuka mata, seorang lelaki –ditonton oleh lelaki lainnya-sedang menindih tubuhnya yang sudah babak belur.

Halimah sempat meronta. Tapi apalah daya. Lelaki buas yang berjumlah enam orang itu sedang kesurupan setan. Karena menanggung rasa sakit yang luar biasa, akhirnya dia kembali pingsan.

Setelah semua manusia itu menunaikan nafsu bejatnya, segara saja mereka mengatur strategi untuk menutupi perbuatan terkutuk itu. Pilihannya adalah dengan cara membunuh Halimah. Sempat terjadi adu mulut. Dua orang pelaku tidak setuju halimah dibunuh. Tapi suara mayoritas mendukung. Dan kemudian wanita malang itu di eksekusi dengan cara dicekik. Bahkan salah seorang pelaku kembali memperkosa mayat Halimah.

Sampai dengan sekarang (2014) tidak ada keluarga yang berhasil menemukan jenazah perempuan malang itu. Bahkan dia tidak dikubur secara wajar. Tubuhnya hanya ditutupi dedaunan dan ditindih batu. Dan lokasinya seputar alur sungai yang berada di lembah itu.
Seiring dengan waktu, Halimah –dalam wujud hantu- mencoba mencari cara agar bisa melampiaskan dendam. Dia kemudian menjadi penghuni tetap lokasi Seunapet bersama dengan ribuan dedemit lainnya.

Terhadap para pelaku pemerkosaan itu, dia sudah melampiaskan dendamnya. Bahkan semua mereka tewas di Seunapet karena kecelakaan. Jiwa-jiwa jahat itu kemudian menjadi budak Halimah.

Terkait dengan seringnya sosok Halimah terlihat di kawasan itu, dia mengaku bahwa itu dilakukannya agar manusia yang masih hidup tahu, bahwa dia pernah ada.

Akan tetapi dia menolak bila dikaitkan dengan biang kecelakaan mobil di kawasan itu. Sebab menurutnya, lokasi jalan dari arah Medan memang rentan kecelakaan. Belokan tajam dan curam sering melahirkan human error. Khususnya para sopir yang baru pertama kali melintas. Satu detik saja kesalahan mengemudi dilakukan di lokasi itu, maka tidak ada waktu yang cukup untuk melakukan penyelamatan. Dia mengaku mendapatkan informasi itu dari jiwa-jiwa sopir yang melayang dilokasi kejadian.

Dikutip dari berbagai sumber 

Sejarah Hikayat Aceh

Hikayat Aceh merupakan salah satu kesasteraan bahasa Melayu yang ditulis pada masa dahulu. Pengarangnya tidak diketahui. Ia adalah antara yang masih terselamat sehingga hari ini.
Hikayat Aceh mengisahkan penguasaan Aceh di bawah Iskandar Muda dan dipercayai mula dikarang selepas penabalan Iskandar Muda iaitu 1607 dan sebelum akhir abad ke-17, apabila karya ini diketahui oleh mubalih Belanda, Leidekker.

Kehilangan kesusteraan Melayu

Banyak hasil kesusteraan Melayu yang telah musnah ditelan zaman dan peperangan. Antara punca kemusnahan tulisan kesusteraan Melayu adalah seperti lenyapnya Kerajaan Seri Wijaya serta kedatangan agama Islam ke alam Melayu, yang membawa kepada lenyapnya segala naskah-naskah kesusasteraan Melayu yang berasal dari zaman Hindu dahulu, kerana ia dianggap tidak sesuai dengan kepercayaan Islam.[2], [3]

Selain itu, kerana istana raja menjadi tempat perhimpunan buku-buku, kebanyakannya musnah binasa dimakan api seperti dalam peristiwa kebakaran istana Sultan Mansor Shah seperti tersebut kisahnya di dalam buku Sejarah Melayu[4], selain peristiwa istana Sang Nila Utama yang juga terbakar.[5]
Selain itu, dengan kejatuhan kerajaan Melaka,[6] banyak kehilangan naskah-naskah kesusasteraan lama Melayu apabila Kerajaan Melayu Melaka kalah ditawan oleh Portugis. Banyak buku dan kitab yang musnah terbakar atau tenggelam bersama Flor De La Mar (Flower of the seas).

Kapal laksamana Alfonso de Albuquerque dari Portugis yang dipercayai tenggelam di perairan Aceh Tamiang dan Pasai pada Disember 1511 membawa banyak harta rampasan perang Melaka.[7]
Selain itu, berlaku juga kebakaran pada sebuah kapal yang bernama the Fame yang dalam pelayaran ke British.[8] Dalam kebakaran itu turut musnah segala muatannya iaitu berbagai-bagai khazanah termasuklah perpustakaan lama Melayu yang telah dikumpulkan oleh Stamford Raffles.[9]

Menurut keterangan Abdullah Abdul Kadir Munshi dalam hikayatnya, nyatalah amat banyak perpustakaan lama Melayu yang telah musnah dalam kebakaran kapal the Fame itu. Adapun perpustakaan lama Melayu, iaitu kitab-kitab, hikayat-hikayat dan syair-syair yang musnah itu menurut Hikayat Abdullah penuh berisi di dalam tiga buah peti kulit panjang-panjang sedepa, antaranya ada kira-kira tiga ratus buah buku-buku yang telah dijilid, tidak termasuk naskah-naskah yang belum berjilid, yang bercerai-berai, bergulung dan yang berhelai-helai. Selain daripada itu, ada lagi duah buah peti penuh berisi dengan surat-surat dan kitab-kitab Jawa, Bali dan Bugis dan tulisan-tulisan di atas daun lontar.[10]

Sesungguhnya adalah terbukti bahawa segala khazanah yang telah musnah di dalam kebakaran kapal the Fame itu amat tinggi nilainya kepada Stamford Raffles,[11] kerana ada tersebut di dalam buku yang bernama “Raffles“ of Singapore karangan Reginald Coupland, mengatakan bahawa berbagai-bagai khazanah yang telah dikumpulkan oleh Raffles sebanyak muatan lebih sebuah kapal telah sudahpun dihantarkan ke England beberapa lama terdahulu daripada peristiwa kebakaran kapal the Fame itu, tetapi segala khazanah yang terpilih dan lebih-lebih dihargainya telah dikemudiankan oleh Raffles dengan tujuan ia sendiri hendak memerhatikan keselamatan khazanah-khazanah itu dalam pelayaran.

Malangnya semuanya itu telah musnah, termasuklah segala naskah buku-buku, surat-surat, tulisan di daun-daun lontar dan sebagainya yang telah disimpan ke dalam peti-peti oleh munsyi Abdullah di Singapura itu serta beberapa banyak lagi khazanah-khazanah yang telah terkumpul dan dibawa daripada Bencoolen.
Pada masa kini Hikayat Aceh menjadi salah satu sumber penting pengkajian bahasa Melayu dan untuk penyelidikan ia boleh didapati di Iskandar, T. (2001). Hikayat Aceh. Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan. (R 959.81 ISK) / Iskandar, T. (1959). De Hikajat Atjeh. ‘s-Gravenhage: Nederlandsche Boek-en Steendrukkerij V. H. H. L. Smits.(RCLOS 992.1 ISK) Penth, H. (1969). Hikajat Atjeh: Die erzahl.

Sumber : https://ms.wikipedia.org/wiki/Hikayat_Aceh

Sejarah Dayah Istiqamatuddin Serambi Aceh

Sejarah Dayah Istiqamatuddin Serambi Aceh Sejarah Berdirinya Dayah Istiqamtuddin Serambi Aceh berlokasi di desa Cot Keumude Kemukiman Cot Bada Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Pimpinan dayah yang pertama dan sampai sekarang dikenal dengan Al-Mukarram Abon Munajar Bin H. Safwan Ali dengan para santri berjumlah lebih kurang 110 orang putra dan 50 orang putri. Mareka diasuh oleh 10 orang tenaga pengajar lelaki dan 1 orang guru putri. Sesuai dengan kondisi zaman pada masa ini bangunan asrama tempat menampung para santri merupakan barak-barak darurat yang dibangun dari batang bambu dan rumbia.    

A. Pemikiran dan Dasar Rujukan Beranjak dari kebutuhan yang mendasar lagi perkembangan jiwa dan mental setiap manusia, pendidikan merupakan jawaban utama yang pasti didahulukan, dikarenakan berbagai perkembangan yang terekam dalam proses kehidupan, ilmu merupakan filter, pencerna dan pengolah terhadap perkembangan tersebut, khususnya bagi anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa. Anak merupakan embio pemimpin masa depan dalam meneruskan cita-cita agama dan bangsa, sangat perlu adanya ilmu pengetahuan yang mampan untuk menghadapi berbagai perkembangan yang kian hari terus bertambah pesat, hingga mereka tidak tertinggal atau bahkan larut dalam perkembangan secara tidak sadar. Gejala dan krisis moral anak remaja saat ini dan para muda-mudi tampaknya sudah terlalu jauh walaupun perkembangan itu bergerak belum begitu jauh, dalam pengertian belum sebanding, bisa diprediksikan gejala dan krisis moral tersebut ini akan terus bertambah apabila tanpa sentuhan pendidikan agama yang memadai, apalagi harus berhadapan dengan lingkungan yang semakin tidak terbaca lagi dengan kaedah budaya, agama dan sosial. Ilmu pengetahuan agama adalah jawaban untuk segala tantangan baru bagi perkembangan para remaja, dengan pengetahuan agama terkontrol terhadap moral dari penggeseran nilai-nilai budaya dan sosial dapat terdeteksi dan menjadi filter dalam menerima setiap perkembangan. Anak-anak merupakan bentuk kepolosan mental yang hakiki, mereka bisa diantar kemanapun orang yang mengantarnya, dan kita sebagai pemimpin hari ini untuk mereka anakyatim dan fakir miskin, atau kita hanya cuma menonton pertujukan-pertujukan yang suatu saat mata kita berdarah.

 B. Langkah Inisiatif dari berbagai alternatif dari wacana serhadana di atas, langkah-langkah yang mesti disusun secermat dan sejelis mungkin adalah dengan memberi pendidikan agama semaksimal mungkin, dimana perkembangan mental yang baru tumbuh, dengan mendapat sentuhan ilmu pengetahuan agama, dasar memilah dan memilih antara yang baik dengan yang tidak menjadi bagian yang pertama mengisi mental mereka dalam arti lain sebelum kita mencoba memasukkan yang lain dalam pikiran mereka ( anak yatim dan fakir miskin ), kita terlebih dahulu memasang filter dalam sistem perangkat pikiran mereka, kita berusaha memberikan pendidikan agama semaksimal mungkin, agar mereka memahami agama secara jelas dan memiliki modal untuk memilih setiap perkembangan sosial, teknologi dan budaya dalam kaca mata agama. Agar pelangaran tata nilai agama yang telah jauh dari santri menjadi tertata kembali, sekaligus menjadi santri yang taat dan berbakti.
 
C. Sasaran Sasaran yang menjadi tanggung jawab saat ini yaitu menciptakan wadah pendidikan yang tepat dan potensial terhadap kondisi masyarakat tanpa harus terbebani tetapi mereka tetap anak yatim piatu dan fakir miskin yang mempunyai peluang dan kualitas ilmu serta sistem pendidikan yang baik. Maka dari kajian tersebut lahirlah gagasan untuk mendirikan suatu pendidikan, yang merupakan suatu wadah Pondok Pasantren dalam menciptakan generasi madani. Yang Insya Allah dalam kesederhanaan dan keterbatasan telah mencoba menyentuh masyarakat sekitar lingkungannya, untuk memposisikan Pasantren / Dayah Istiqamatuddin Serambi Aceh menjadi tujuan pendidikan agama mereka dan hingga saat ini juga dengan kehendak Allah telah menjadi bagian dari anak-anak santri. Pondok Pasantren / Dayah Istiqamatuddin Serambi Aceh merupakan Dayah yang sedang berkembang saat ini yang bergerak dalam bidang sosial. Dengan segala keterbatasan hingga saat ini Pondok Pasantren / Dayah Istiqamatuddin Serambi Aceh telah menampung santri 160 orang dengan guru 11 orang.

D. Tujuan Pendidikan Pendidikan dan pengajaran di Dayah Istiqamatuddin Serambi Aceh di tujukan kearah pembentukan Sumber Daya Manusia yang berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas, beramal ikhlas guna mengabdi di masyarakat.Anak didik diharapkan tumbuh menjadi manusia yang berwawasan keagamaan yang universal dan kosmopolitan, agar memiliki kemampuan tinggi dalam menghadapi kehidupan masyarakat modern dan menghindari pengaruh budaya westernisasi dan menyiram kesegaran batin generasi muda yang menjadi korban sekulerisme budaya asing. Demikian juga pendidikan dan pengajarannya senantiasa diarahkan untuk berperan aktif membina keteguhan, keimanan dan berjihat di jalan Allah, berpegang taguh pada Al-Quran, Sunnah Rasul, Ijma` Ulama, serta Qiyas yang berwawasan Ahli Sunnah. 

E. Organisasi dan Kelembagaan Pondok Pesantren. 
1. Pimpinan Dayah.     
a.Wadir Bidang Pendidikan.    
 b.Wadir Bidang Keuangan.    
 c. Wadir Bidang Pengembangan dan Kesantrian. 

G. Organisasi Otonomi    
1. Koperasi Pesantren (Kopontren)    
2. Majlis Ta`lim   
 3. T P A H. Jumlah Santri Jumlah santri yang belajar di Dayah Serambi Aceh sekarang ini adalah sebanyak 160 orang. yang terdiri dari 110 santriwan dan 50 santriwati. 

I. Kedisiplinan/tugas.
 1. Santriwan/santriwati. 
a). Mengikuti pelajaran setiap belajar (pagi, sore, malam) 
b). Mengikuti shalat berjama`ah setiap waktu 
c). Memakai busana muslim, seragam putih sewaktu belajar 
d). Dilarang memasak dengan siswa yang bukan mahram 
e). Dilarang masuk kamar orang lain tanpa izin
 f). Dilarang keluar komplek tanpa izin 
g). Tidak boleh keluar mushalla sebelum selesai wirid 
h). Menghentikan segala kegiatan sewaktu azan 
i). Mengikuti dalail khairat/muhadharah pada malam Jum`at j). Dan lain-lain. 

2. Wali murid 
a). Mengantar dan menjemput pelajar putri 
b). Setiap masuk komplek wajib berbusana muslim/muslimah 
c) Antar/jemput santriwan/wati sepengetahuan pimpinan 
d). Bagi yang melanggar ketentuan diatas dikenakan sanksi    
 
J. Tenaga pendidik/guru. Peranan dan tenaga pendidik sangat penting dalam pendidikan, betapapun baiknya konsep sebuah lembaga yang didukung oleh fasilitas dan prasarana yang cukup lengkap, namun akan kurang nilainya bila ditangani oleh guru yang kurang berkualitas. 
Oleh karena demikian rekruitmen guru di Dayah Istiqamtuddin Serambi Aceh dilakukan dengan proses seleksi, dimana guru yang ditempatkan pada tingkatan kelas disesuaikan dengan kemampuan intelektual mereka. Jumlah tenaga guru pendidik pada Dayah Istiqamatuddin Serambi Aceh Desa Cot keumude saat ini berjumlah 11 guru, dimana 10 guru laki-laki dan 1 guru perempuan .Keseluruhan guru yang mengajar di Dayah Serambi Aceh adalah alumni dari Dayah itu sendiri yang telah menguasai dan menjiwai nilai dan sunnah pesantren tersebut. 
 
Sumber : http://www.babuljannahtv.com  

Pantun Aceh Part III

Hari minggu pengen jajan,
Nelpon abang suruh jemput,
Pakek baju model pas pasan,
Biar gak bosan abang dilaut.

Na sidroe sahbat saya tak faham,
Ulon geubilang saya nyoe lucu,
Entah lon saka entah lon garam,
Wallahuaklam saya tak tawu.

Kali cinta sithon pacaran,
Leumo agam korban pulsa,
Abeh bahasa karang rayuan,
Akhe pinangan ka gob ba tanda.

Ulon neuk pajoh sarapan pagi,
Yang na sit ruti tapi tan sile,
Daripada prut cacing meunari,
Keu sile ruti lon boeh sabon B.

Hati ulon sedih dan penat,
Tadi lon lihat hantu lam kama,
Adakah teman yang jeud ta curhat,
Nomor neu catat bek brat lon trauma.

Capek aku kejar syaitan,
Yang ku dapat anak kelinci,
Bila ku ingat malam jum'atan,
Dak jeud lon tuan beu kana istri.

Ulon neuk jak bak reumoh guru,
Mita teumon bu keu bu coet uroe,
Yang neuk jak jj lon yu jak laju,
Bek neucah alu teu choep ngen duroe.

Sumber : www.facebook.com/saifud.saifud.374

Pantun Aceh Part II

Anda makan jeud apa saja,
Tapi blacan tetap nomor sa,
Walau neupeugah lon anak kota,
Kareng teuphep tiada dua.

Sungguh saya sangat rindu,
Dua dirimu tetap lon cinta,
Duren dan bakso kayak istriku,
Dua dirimu lof yu lon sapa.

Kosong lapang limoeng ngen lhe,
Gata bek male neu tuleh sigra,
Nam dua,dua ngen tujoh,
Nomor ulon bi beklah neu sampoh,
Limoeng lhe tujoh ngen dua,
Aci neu miskol lon angkat sigra.

Menyoe hubungan hana toem jeulah.
Pireng beukah tamah ngen cupe,
Malam senin duren ku belah,
Enak sileumpah martabak kece.

Sungguh aku sedih dan senang,
Lihat piasan bak jalan raya,
Cewek ka sijuk peluk cut abang,
Lage uleu lhan igrup muruwa.

Adak pih gob kheun gata hi tuha,
Bek marah gata fahla untuk mu,
Ketimbang neu soek baje deuh BH,
Mandum meu dosa keluarga kamu.

Keubit lon suka keu anak bapak,
Boleh lon ajak ke kantor KUA,
Suatu saat dihari kelak,
Lon tuka keu bapak cucu soleha.

Sumber : www.facebook.com/saifud.saifud.374

Pantun Aceh

Jual bebek modal pacaran,
Sundak U orang tuk modal je je,
Disundak ja mukamu kawan,
Jangan sok soan bloe bebek mate.

Met malam pak keuchiek pesbuk,
Met sibuk nek imum maya,
Jak bobok sigra bekle gata duk,
Kasur empuk ka jipreh gata.

Salah gusuk ka salah pujoe,
Ban troek lam ranto ka bandar narkoba,
Menyoe igampoeng jihei jih teungku,
Ban ulon teupu ka jih mafia.

Dek ramlah ngen dek aton,
Meuturi phon2 bak bineh paya,
Awak nyan dua awai mantan lon,
Lheuh putoh ngen lon geuba u banda.

Semenjak gajah pergi belanja,
Itek angsa makan kentaki,
Semenjak behel meraja laila,
Tuha muda peuleumah guci.

Menyoe kalheuh ku kheun bak U,
Hana pu kayu beu ku kheun kameng,
Bit-bit that matre cewek dum ta'eu,
Lheuh tabloe putu hawa boh limeng.

Sumber : www.facebook.com/saifud.saifud.374

Asai Haleu teutap loen rupah. Adak dijajah lagee Beulanda

Uroe yang toet ujeun yang rhah..
Angen peurubah geulanteu teuka..
Dingo loen boet rakan meutuah..
Saboh kisah yang uloen rasa..

Nasib meurana hudep that susah..
Mak ngen ayah ken ureung kaya..
Dalam desa jak tueng upah..
Demi loen nafkah keu keluarga..

Muka ka itam jaroe abeh crah..
Ruoh reuah dalam blang raya..
Uroe malam jak mita rupiah..
Seudeh leumpah yang loen rasa..

Bak pak geuchik jak ceumacah..
Beungoh beukah sampe oh asa..
Geubi peng grik saboh keureutah..
Meukeu sabon sumurah han seb hareuga..

Kadang lam gle jak ceumeucah..
Liki ngen birah dalam rimba..
Dibi hase sion on mirah..
Hana meuglah keu breuh ngen sira..

Ban ka beungoh parang loen asah..
Loen grak langkah mita pat yang na..
Hate meh moh hana pat peugah..
Rata wilayah lakee keureuja..

Na yang didhot na yang dipeugah..
Na yang ditacah uloen dipeujra..
Hana loen takot teutap loen ilah..
Adak pih parah nibak keureuja..

Aneuk uleu dicoeng panah..
Aneuk mawah dicoeng pala...
Asai haleu teutap loen rupah..
Adak dijajah lagee beulanda...

Sumber : Aceh Ulok

Laen Ureung Meu laen Sifeut, Laen Ureung Beut laen Irama

Manyang sileumpah gunong seulawah
Keubit that indah gunong geurudong
Lagak si leumpah dek dara Ceudah
Koen sulet lidah gata lon sanjong

Lon kaloen laot meusyahya bintang
Lon kalon u blang buleun purnama
Hatee teupawoet jatoh cinta sang
Peujeut hay intan lon ikrar cinta

Ulon mugoe blang sinaleh padee
Ban kajeut hasee leubeh 3 gunca
Hana lon sangka teupawoet hatee
Peu ek meusampee deungon adinda

Lon seutot awee lale lam gunong
Lon seutot bungong lalee cong langa
Lon seutot hatee ka teubingong-bingong
Lon seutot dek noeng meuteumeung cinta

Lheuh uroe minggu uroe seulanyan
Oh lheuh nyan teuma uroe seulasa
Beukah ceupee gantoe ngon pingan
Ulon laen han meunyoe koen gata

Laen ureung meu laen sifeut
Laen ureung beut laen irama
Meu laen cinta mueulaen meuheut
Tapi yang lon heut meukawen dua

Sumber : Aceh Ulok

Uroe minggu,Rayu Janda.

Uroe minggu,rayu janda.
Pugah haba,duk bak tembok.
Leh pat mangat,nikmat donya.
Lheu tarasa,bit mupuep syok.

Cie ta simak,nyak le gata.
Nyoe cerita,sep meutagok.
Dak lon tuleh,bareh gasa.
Lheuh neubaca,teukhem cikok.

Baro kamoe,woe bak pesta.
U blang ara,kamoe lok-lok.
Meuturi teuk,anuk dara.
Bacut beda,gei hi tukok.

Sok pakaian,ragam lua.
Kuneng jingga,jipakek rok.
Cukop sombong,hantom yang ka.
Oh tasapa,geuthat brat sok.

Kheun si ADI,bak ti hawa.
Dek na bada,pisang kupok.
Katrep abang,tan meurasa.
Oh tei hawa,tan mupat cok.

Bek teumakot,peukrot muka.
Abang kaya,na moto krok.
Sep jai toko,di canada.
Gudang sira,peut di bagok.
 
Lheuh nyan dilon,ganteong rupa.
Peng meujuta,bank kurampok
Meunyo tatem,sandeng dua.
Reutoh juta,kah ku sogok.

Ikei kukhem,paleng muka.
Geuthat gura,jinoe cowok.
Rayu inong,ngon rupia.
Dahai nyata,tan meu rukok
 
Sumber : Aceh Ulok