Aku Hanya Ingin Sembuh dari Bagian Diriku yang Tidak Pernah Bisa Aku Ceritakan pada Siapapun

Ada sebuah sudut di dalam dadaku yang gelap, pengap, dan terkunci rapat. Di sana bersemayam ingatan-ingatan yang tak punya suara, luka-luka yang tak punya nama, dan rasa malu yang tak pernah menemukan kata-kata untuk dijelaskan.
Orang-orang mengenalku sebagai pria yang baik-baik saja. Aku tertawa di meja makan, aku bekerja keras di siang hari, dan aku mendengarkan keluh kesah teman-temanku dengan sabar. Namun, ketika lampu kamar padam dan sunyi mulai merayap, bagian diriku yang "itu" mulai bicara.
Ia adalah luka yang tidak berdarah, tapi terus-menerus berdenyut.
Ada hal-hal yang terlalu pahit untuk diceritakan, terlalu memalukan untuk diakui, atau terlalu rumit untuk dipahami orang lain. Bagaimana aku bisa menjelaskan rasa hampa yang tiba-tiba datang tanpa alasan? Bagaimana aku bisa menceritakan penyesalan masa lalu yang terus menghantuiku seperti bayangan? Atau rasa tidak berdaya yang membuatku merasa seperti penipu di tengah keramaian?
Aku tidak butuh dikasihani, aku hanya ingin sembuh.
Sembuh dari rasa benci pada diri sendiri yang sering muncul tanpa diundang. Sembuh dari keharusan untuk selalu terlihat kuat padahal di dalam aku sedang hancur lebur. Aku ingin berdamai dengan rahasia-rahasia yang selama ini kupikul sendirian, rahasia yang membuat pundakku terasa jauh lebih berat daripada beban pekerjaan manapun.
Mungkin, kesembuhan itu bukan berarti ingatannya hilang. Mungkin sembuh berarti saat aku melihat ke arah sudut gelap itu, aku tidak lagi merasa sesak. Aku ingin bisa menatap cermin tanpa harus membuang muka karena merasa kotor atau gagal.
Aku lelah berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, aku juga terlalu takut untuk bicara, karena tidak semua telinga sanggup mendengar, dan tidak semua hati mampu mengerti tanpa menghakimi.
Jadi, di sinilah aku. Berbisik pada sunyi, memohon pada semesta agar pelan-pelan rasa sakit yang tak terkatakan ini memudar. Aku hanya ingin menjadi utuh kembali. Tanpa harus menjelaskan, tanpa harus membela diri. Aku hanya ingin bangun suatu pagi dan merasa bahwa jiwaku akhirnya pulang ke rumah yang tenang.
Sebab luka yang paling berat bukanlah luka yang terlihat oleh mata, melainkan luka yang harus kita jaga kerahasiaannya agar dunia tetap melihat kita sebagai manusia yang "normal".

Latest


EmoticonEmoticon