Lekas Terurai

Lekas Terurai

Beberapa hal di dunia ini memang diciptakan untuk tidak bertahan lama. Seperti embun yang menyapa dedaunan di pagi buta, ia hadir hanya untuk menunggu matahari pagi menjemputnya kembali ke langit. Kadang, hidup terasa seperti itu sebuah proses panjang untuk belajar bagaimana cara melepaskan apa yang pernah kita genggam dengan erat.
Kita sering kali terlalu sibuk menumpuk. Menumpuk memori, menumpuk barang, hingga menumpuk ekspektasi yang sebenarnya sudah kadaluwarsa. Kita lupa bahwa untuk memberi ruang bagi yang baru, yang lama harus dibiarkan melapuk, mengecil, dan akhirnya lekas terurai.

Tentang Kehilangan yang Menenangkan

Mendengar kata "terurai", pikiran kita mungkin langsung tertuju pada sesuatu yang hancur atau rusak. Namun, bukankah tanah butuh daun-daun kering yang terurai untuk menjadi subur kembali? Begitu juga dengan hati. Kesedihan yang kita simpan, jika dibiarkan larut bersama waktu, perlahan akan menjadi pupuk bagi kedewasaan kita di masa depan.
Tidak ada yang salah dengan menjadi rapuh. Karena hanya yang rapuh yang bisa terurai, dan hanya yang terurai yang bisa kembali menyatu dengan alam, menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Melepas dengan Ikhlas

Seringkali, yang membuat kita menderita bukanlah peristiwanya, melainkan cara kita menolak untuk membiarkannya pergi. Kita ingin semuanya abadi, padahal keabadian adalah beban yang terlalu berat untuk dipikul oleh manusia.
"Lekas terurai" bukan berarti melupakan. Ia adalah cara kita menghormati waktu. Bahwa setiap pertemuan memiliki masa berlakunya, dan setiap perasaan memiliki titik jenuhnya. Saat sesuatu sudah sampai pada waktunya, biarkan ia terurai dengan damai. Tanpa paksaan, tanpa dendam.

Penutup

Malam ini, biarlah semua penat dan beban pikiran yang menyumbat di kepala lekas terurai. Biarkan mereka terbang bersama angin atau larut dalam lelap tidurmu. Esok pagi, kita akan bangun sebagai tanah yang lebih subur, siap ditanami harapan-harapan baru yang mungkin saja akan tumbuh lebih kuat dari sebelumnya.
Sebab pada akhirnya, kita semua hanyalah sekumpulan cerita yang perlahan-lahan sedang menunggu giliran untuk lekas terurai kembali ke semesta.
Latest


EmoticonEmoticon