Hanya Aku dan Allah



Dunia seringkali bising dengan ekspektasi. Di usia sekarang, rasanya seperti sedang berada di tengah persimpangan jalan yang padat. Orang-orang berlalu-lalang dengan pencapaian mereka, sementara aku seringkali diam sejenak, menarik napas dalam, dan menyadari bahwa pada akhirnya, dalam setiap pergulatan batin ini, hanya ada aku dan Allah.

Menjemput Takdir, Bukan Mengejar Angka

Dulu, aku berpikir karir adalah tentang tangga yang harus dipanjat secepat mungkin. Aku terjebak dalam perlombaan yang tidak ada garis finisnya. Namun, ada titik di mana aku merasa lelah meski sudah berlari jauh. Di saat itulah aku sujud lebih lama.
Aku belajar bahwa bekerja bukan sekadar mencari validasi manusia atau tumpukan materi. Karir adalah bentuk ibadah dan caraku menjemput rezeki yang sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Ketika pintu satu tertutup, aku tidak lagi hancur, karena aku tahu Allah sedang mengarahkan langkahku ke pintu yang lebih berkah. Tugasku hanya berusaha sebaik mungkin, hasilnya? Biarlah itu menjadi rahasia antara aku dan Pemilik Alam Semesta.

Melepaskan Kendali, Menitipkan Hati

Urusan hati mungkin adalah bagian yang paling sulit untuk tetap tenang. Melihat teman-teman sudah membangun rumah tangga, terkadang ada rasa "kapan giliranku?". Tapi lagi-lagi, aku kembali pada kesadaran: Semua terlihat indah jika belum dimiliki.
Aku mulai berhenti mendikte Allah tentang siapa yang harus mendampingiku. Aku belajar untuk menitipkan rasa sepi, harapan, dan rindu ini kepada-Nya. Jika hari ini aku masih sendiri, itu artinya Allah ingin aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan-Nya. Aku percaya, Dia tidak akan membiarkan hati yang tulus menunggu tanpa akhir yang indah. Aku ingin mencintai seseorang karena Allah, maka aku harus memperbaiki hubunganku dengan Allah terlebih dahulu.
Rumah Tempat Pulang dan Ingin Membahagiakan Ibu

Keluarga adalah cermin paling nyata tentang kasih sayang Allah. Di saat dunia luar terasa kejam, mereka adalah tempatku kembali. Namun, di antara semua wajah di rumah, ada satu sosok yang selalu menjadi pusat doaku: Ibu.

Setiap peluh dalam karir dan setiap sabar dalam penantian, terselip satu keinginan besar: aku ingin membahagiakan Ibu. Aku ingin melihat binar bangga di matanya dan senyum tenang di wajahnya sebelum waktu merampas segalanya. Seringkali aku merasa takut, "Apakah baktiku sudah cukup? Apakah aku bisa memberikan yang terbaik untuknya?".

Dalam sujudku, aku mengadu pada Allah, memohon agar diberi kesempatan dan kemampuan untuk memuliakannya. Aku sadar, membahagiakan Ibu bukan sekadar tentang materi, tapi tentang kehadiranku yang tulus dan kesuksesanku menjadi pribadi yang saleh. Karena pada akhirnya, ridha Allah ada pada ridhanya, dan di bawah telapak kakinya pulalah surgaku berada.
Menuju Satu Ridha
Pada akhirnya, segala lelah dalam mengejar karir, segala sabar dalam menanti jodoh, dan segala upaya dalam membenahi diri bermuara pada satu tujuan: meraih ridha Allah melalui senyum Ibu. Aku sadar bahwa jalanku mungkin masih panjang dan berliku, namun aku tidak lagi merasa sendiri.
Aku tidak perlu menjelaskan semua pengorbananku pada dunia. Cukup Allah yang tahu setiap tetes keringatku, dan cukup doa Ibu yang menjadi angin di bawah sayapku. Aku percaya, ketika aku mengutamakan Allah dan memuliakan Ibuku, maka dunia akan ikut bersujud dalam genggamanku. Karena hanya dengan-Nya, dan demi mereka yang kucintai, hatiku benar-benar merasa cukup.
Latest


EmoticonEmoticon