Selamat tinggal 2024!

Di tahun baru ini, mari kita tetapkan satu tujuan lebih banyak

kebahagian dan lebih sedikit drama ( terutama yang di buat oleh kita 

sendiri). semoga kita tetap jadi sahabat yang saling menyebalkan

dengan cara yang aneh.


Semoga tahun ini membawa banyak kejutan, umur yang berkah dan selalu sehat

semoga kita terus berbagi tawa, semoga kita tetap bisa menikmati setiap moment,

tanpa merasa terbebani oleh daftar tujuan yang panjang,


Semoga tahun baru ini penuh dengan kebahagian, setidaknya kita tetap bisa 

tertawa tentang betapa lucunya rencana kita yang gagal


Selamat tinggal 2024! semoga segala kebiasaan buruk kita juga ikut tertinggal!

Mari berjanji untuk tetap menjadi versi terbaik dari kita sendiri, dan mendukung 

satu sama lain di setiap langkah yang di ambil.


Terima kasih sudah jadi bagian dari cerita hidupku yang paling berharga.

semoga di tahun baru ini, kita semakin di kelilingi oleh kedamaian dan kebahagian.

Biografi Abu Tumin Blang Blahdeh

 


"Biografi Singkat Abu Tumin Blang Bladeh"

Abu Tumin lahir dari keluarga ulama dan pemuka masyarakat. Ayahnya Teungku Tu Mahmud Syah adalah ulama, tokoh masyarakat dan pendiri dayah. 

Semenjak kecil Abu Tumin telah dipersiapkan untuk menjadi seorang ulama yang paripurna. Mengawali pengembaraan ilmunya, Abu Tumin pernah mengecap pendidikan umum pada masa Belanda selama tiga tahun. 

Setelah kemerdekaan, Abu Tumin dalam usianya 12 tahun dimasukkan ke Sekolah SRI, sekolah yang memiliki bahan ajaran yang memadai dalam bidang agama. Sambil bersekolah di SRI, Abu Tumin juga belajar langsung pada ayahnya ilmu-ilmu keislaman, terutama dasar-dasar kitab kuning dan ilmu alat seperti nahwu dan sharaf.

Selama lebih kurang tiga tahun Abu Tumin belajar dengan sungguh-sungguh kepada ayahnya Teungku Tu Mahmud Syah yang juga ulama, telah memberikan bekal ilmu yang memadai untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya. 

Pada usianya 15 tahun, mulailah Abu Tumin belajar dari satu dayah ke dayah lainnya hingga berakhir di Labuhan Haji Darussalam dengan gurunya Syekh Muda Waly al-Khalidy.

Abu Tumin pernah belajar beberapa bulan di Dayah Darul Atiq Jeunieb yang dipimpin oleh Abu Muhammad Saleh yang merupakan ayah dari Abon Samalanga. 

Setelah beberapa bulan di Dayah Jeunieb, Abu Tumin kemudian melanjutkan pengajiannya ke Dayah Samalanga dalam beberapa bulan juga, kemudian beliau belajar di Dayah Meuluem Samalanga selama satu tahun, dan terakhir di Dayah Pulo Reudep yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Pulo Reudep selama tiga tahun sebelum ke Labuhan Haji. 

Maka dengan bekal ilmu yang memadai dari guru-guru itulah yang mengantarkan Abu Tumin muda dalam usianya 20 tahun berangkat ke Dayah Darussalam Labuhan Haji Aceh Selatan pada tahun 1953. Selain Abu Tumin, di tahun 1953 beberapa ulama lainnya juga tiba di Labuhan Haji untuk belajar pada Abuya Syekh Muda Waly. 

Karena umumnya teungku-teungku yang belajar kepada Abuya, telah memiliki ilmu yang memadai sebelum belajar ke Abuya, sehingga bisa duduk di kelas khusus Bustanul Muhaqqiqin. 

Di antara ulama-ulama yang datang pada tahun 1952 dan 1953 adalah Abu Abdullah Tanoh Mirah yang kemudian mendirikan Dayah Darul Ulum Tanoh Mirah yang dikenal dengan kealimannya dalam bidang ushul fikih. 

Ulama lainnya adalah Abon Abdul Aziz Samalanga yang melanjutkan kepemimpinan Dayah MUDI Samalanga setelah wafat mertuanya Abu Haji Hanafiyah Abbas yang dikenal dengan Teungku Abi.

Abon Abdul Aziz Samalanga dikenal ahli dalam ilmu mantik atau ilmu logika. Sedangkan Abu Keumala datang lebih awal ke Dayah Darussalam Labuhan Haji, dan Abu Keumala dikenal ahli dalam ilmu tauhid, mengabdikan ilmunya di Medan Sumatera Utara hingga wafatnya pada tahun 2004. 

Selain menjadi murid Abuya Syekh Haji Muda Waly di Darussalam, Abu Tumin juga telah dipercaya untuk mengajarkan para santri lain yang berada pada tingkatan tsanawiyah, karena beliau disebutkan mengajar santri di kelas 6 B, adapun di kelas 6 A diajarkan langsung oleh Abuya Muhibbudin Waly, sedangkan Syekh Muda Waly al-Khalidy mengajarkan kelas dewan guru. 

Ketika di Darussalam Labuhan Haji, Abu Tumin sekelas dengan Abu Hanafi Matang Keh, Teungku Abu Bakar Sabil Meulaboh dan Abu Daud Zamzami Ateuk Anggok. 

Sedangkan Abu Abdullah Tanoh Mirah dan Abon Samalanga lebih tinggi satu tingkat di atasnya. Abu Tumin belajar dan mengajar di Labuhan Haji selama 6 tahun, beliau juga murid khusus di kelas Bustanul Muhaqqiqin belajar langsung kepada Abuya Haji Muda Waly.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Dayah Darussalam Labuhan Haji, Abu Tumin kemudian memohon izin kepada gurunya untuk pulang kampung pada tahun 1959 untuk mengabdikan ilmunya. 

Sedangkan temannya seperti Abon Samalanga pulang kampung setahun sebelumnya pada tahun 1958 dan Abu Tanoh Mirah pulang di Tahun 1957. Umumnya murid-murid Abuya yang datang di atas tahun 1952 dan 1953 pulang di akhir tahun1959.

Sedangkan generasi sebelum Abu Tumin yang datang ke Darussalam pada tahun 1945 dan 1947, mereka umumnya pulang di tahun 1956 seperti Abuya Aidarus dan Abu Syamsuddin Sangkalan.

Setibanya di Kampung halaman, setelah belajar di berbagai dayah terutama Dayah Darussalam Labuhan Haji telah mengantarkan Abu Tumin menjadi seorang ulama yang mendalam ilmunya.

Abu Tumin memimpin dayah yang telah dibangun oleh kakek beliau yaitu Teungku Tu Hanafiyah yang kemudian dilanjutkan oleh Teungku Tu Mahmud Syah ayah Abu Tumin, selanjutnya estafet keilmuan dan kepemimpinan dayah dilanjutkan oleh Abu Tumin. 

Pada era Abu Tumin mulailah pesat pembangunan Dayah tersebut. Dimana para santri datang dari berbagai tempat untuk belajar kepada Abu Tumin dan belajar dari sang ulama. 

Abu Tumin juga merupakan seorang ulama yang murabbi, sehingga banyak muridnya yang menjadi ulama terpandang sebut saja di antaranya adalah Abu Mustafa Paloh Gadeng yang belajar kepada Abu Tumin selama 19 tahun sehingga mengantarkan beliau menjadi seorang ulama kharismatik Aceh yang diperhitungkan. 

Ulama lainnya yang juga murid Abu Tumin adalah Abu Abdul Manan Blang Jruen yang dikenal sebagai ulama yang ahli dan lihai dalam bidang tauhid, serta moderator yang hebat dalam muzakarah para ulama Aceh, sehingga diskusi nampak ceria dan bersemangat. 

Dan banyak para ulama lainnya yang juga murid dari Abu Tumin, selain murid-muridnya di Dayah Darussalam dulu. 

Dan di sebuah acara muzakarah, Abuya Mawardi Waly juga menyebutkan dirinya sebagai murid Abu Tumin. Intinya Abu Tumin juga ulama yang Syekhul Masyayikh. 

Bahkan Abu Daud Teupin Gajah atau Abu Daud al Yusufi yang merupakan ulama kharismatik Aceh Selatan juga termasuk murid yang lama belajar kepada Abu Tumin dimana sebelumnya beliau belajar kepada Abuya Haji Jailani Kota Fajar.

Selain itu, Abu Tumin juga dianggap sebagai ulama panutan oleh para ulama lainnya, dimana fatwa-fatwa hukumnya menjadi bahan kajian dan pegangan para ulama lainnya. 

Biasanya pada setiap muzakarah yang diadakan di berbagai tempat, Abu Tumin yang kemudian mengambil keputusan terakhir, setelah sebelumnya para ulama lain memberikan pandangan dan sanggahan atas setiap persoalan yang sedang dibahas forum.

Kehadiran Abu Tumin menambah acara muzakarah semakin bermakna, karena pandangan hukum beliau biasanya dari ingatan yang lama dan kajian yang mendalam. 

Sehingga tidak mengherankan bila ada yang menyebutkan bahwa "Abu Tumin tua umurnya dan tua pula ilmunya".

Abu Tumin telah mempersembahkan segenap usianya untuk agama ini, dan telah pula mencurahkan segenap ilmu dan pengabdiannya, mengayomi masyarakat Aceh secara tulus ikhlas. Dan hari ini beliau telah kembali kehadhirat Allah SWT. 

Semoga Allah SWT menempatkan beliau di surga tertinggi bersama para Anbiya, Syuhada dan Shalihin.

Innalillahi Wainna Ilaihi Raji'un. 

Selamat Jalan Guru Yang Mulia ABU TU. 

Ditulis:

Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary

UWAIS Al QARNI YANG TIDAK MEMINTA SYURGA


(Balasan Allah yang luar biasa kepada anak yang berbakti kepada orang tuanya)

Ingatkah kita akan sosok Uwais al-Qarni? Sosok pemuda yang tidak dikenal di bumi tapi namanya harum di langit menjadi perbincangan para Malaikat. Bahkan, di bumi orang-orang menganggapnya gila. 

Uwais al-Qarni hidup di masa Rasulullah dan tinggal di negeri Yaman. Hidupnya miskin dan ia menderita sakit kulit dimana seluruh tubuhnya belang-belang. 

Ia tinggal bersama Ibunya yang sudah berusia senja. Apa pun permintaan Ibunya selalu dipenuhi. Hingga tiba saatnya Sang Ibu meminta satu permintaan yang sulit ia kabulkan. 

"Wahai Ananda, Ibu sudah tua. Ibu rindu melihat ka'bah. Ibu rindu melakukan ibadah haji. Mungkinkah Engkau bawa Ibumu ke tanah suci." Pinta Sang Ibu kepada anaknya Uwais. 

Melihat permintaan Ibu yang begitu serius, Uwais sebenarnya tidak ingin mengecewakan Ibunya. Tapi kondisi hidup yang miskin dan tidak memiliki unta membuat harapan Ibunya seakan mustahil diwujudkan. 

Namun Uwais tidak kehabisan akal. Kondisi hidupnya yang miskin tidak dijadikan alasan dan dalih untuk menolak permintaan Ibu. Uwais akhirnya membeli seekor anak lembu dan ia membuat kandangnya di puncak bukit. 

Setiap pagi ia gendong anak lembu itu untuk diturunkan dan sore harinya anak lembu itu kembali ia naikkan ke puncak bukit. Inilah penyebab kenapa orang-orang menganggap Uwais gila. 

Akhirnya delapan bulan kemudian baru terjawab. Uwais membeli anak lembu sebagai latihan fisik agar otot-ototnya kuat. 

Bagaikan Ibu hamil yang tidak terasa bayi yang dikandungnya semakin hari semakin besar, Uwais pun tidak menyangka kalau sekarang ia sudah mampu mengangkat beban yang berat. 

Maka lembu yang sudah besar itu dijual untuk biaya perjalanannya dan ia menggendong Ibunya dari Yaman ke Mekah. 

Saat tiba di Mekah, Sang Ibu sudah mulai berlinangan air mata. Terharu dengan pengabdian anaknya yang luar biasa. Saat tiba di tempat mustajabah, Ibunya mendengar anaknya Uwais berdoa, "Ya Allah, masukkanlah Ibuku ke Syurga!" 

Mendengar doa Uwais seperti itu Ibunya berkata, "Kenapa Engkau tidak berdoa kepada dirimu Nak? Kenapa hanya Ibu saja yang Engkau doakan?" Uwais menjawab: "Dengan Ibu masuk syurga, Ibu akan ridha kepadaKu, maka cukup dengan ridha Ibu yang akan mengantarkanku masuk ke Syurga." 

Jawaban Uwais seperti itu membuat Ibunya semakin kagum kepada anaknya. Tanpa Ia berdoa kesembuhannya, penyakit kulit yang diderita Uwais sembuh seketika. 

Kecuali hanya bulatan kecil di tangannya sebagai tanda bagi Saidina Umar dan Saidina Ali ketika mencari Siapa Uwais al-Qarni karena Rasulullah memerintahkan Umar dan Ali untuk mencari Uwais, meminta didoakan oleh Uwais karena doanya diterima oleh Allah. 

Uwais al-Qarni memang tidak mendoakan syurga. Ia hanya mencari ridha Ibunya. Namun tahukah apa yang didapatkan Uwais? Ternyata Uwais tidak hanya masuk syurga, 

ia juga diberikan jatah syafaat sehingga mampu membawa orang lain masuk syurga bersamanya sejumlah bilangan manusia dalam suku Rabi'ah dan Mudhar (dua suku terbesar dalam bangsa Arab) 

Cerita Uwais al-Qarni ini disarikan dari Pengajian Syarah Hikam Ibnu 'Ibad Ar-Randy bersama Abi Zahrul Fuadi Mubarak (Wadir I Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga) Ramadhan 1437 H/ 2016 M 

Semoga bermanfaat!!! Semoga kita menjadi anak yang berbakti...!!!

Aamiin ya rabbal alamin.

Kumpulan Pantun Aceh


Assalamualaikum. Berikut berhasil admin kumpulin beberapa pantun Aceh yang hampir punah di telan masa.. semoga bisa membantu.. 

Aneuk ticem tingeh di mayang,
Aneuk musang tingeh meu canda,
Kahana neujak u laot lapang,
Neupakat ayank u laot jangka.

Lon kliek lon khem leumah boh drien,
Sidumnan yakin sangat kuhawa,
Kakeuh han jadeh ulon bloe sikin,
Lon cok siguling lon peluk aja.

Sambil pingsan denger lagu,
Judul sesuatu syahrini dendang,
Biar gak merah mata neuh sayu,
Kajeud tidur ju bekle bergadang.

Menyoe pesbuk sudah candu,
Barang tentu kebutuhan,
Bangun tidur cek hape dulu,
Mati lampu kesusahan.

Eungkoet masen mata nya batu,
Ikan garpu merah pantat nya,
Menyoe bit galak adek padaku,
Yg geukheun lop yu peu makna nya.

Hakikat merdeka bukanlan negri,
Merdeka diri dari api neraka,
Bak kalen drambend mata dum teubli,
Ucoeng bak giri leuhoe ngen asa.

Meulinte aqua sedang,
Ayah tuan keu teh poci,
Male hate wate ta bayang,
Bak yah tuan yu bloe boh giri.

Teumon bu neu pajoh labang,
Menyoe pisang peunajoh banci,
Laba tujoh blah aqua sedang,
Dosa meukarang ban boh jok jibi.

 Bersambung

Sejarah Dayah Istiqamatuddin Serambi Aceh


Sejarah Dayah Istiqamatuddin Serambi Aceh Sejarah Berdirinya Dayah Istiqamtuddin Serambi Aceh berlokasi di desa Cot Keumude Kemukiman Cot Bada Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Pimpinan dayah yang pertama dan sampai sekarang dikenal dengan Al-Mukarram Abon Munajar Bin H. Safwan Ali dengan para santri berjumlah lebih kurang 110 orang putra dan 50 orang putri. Mareka diasuh oleh 10 orang tenaga pengajar lelaki dan 1 orang guru putri. Sesuai dengan kondisi zaman pada masa ini bangunan asrama tempat menampung para santri merupakan barak-barak darurat yang dibangun dari batang bambu dan rumbia.    

A. Pemikiran dan Dasar Rujukan Beranjak dari kebutuhan yang mendasar lagi perkembangan jiwa dan mental setiap manusia, pendidikan merupakan jawaban utama yang pasti didahulukan, dikarenakan berbagai perkembangan yang terekam dalam proses kehidupan, ilmu merupakan filter, pencerna dan pengolah terhadap perkembangan tersebut, khususnya bagi anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa. 

Anak merupakan embio pemimpin masa depan dalam meneruskan cita-cita agama dan bangsa, sangat perlu adanya ilmu pengetahuan yang mampan untuk menghadapi berbagai perkembangan yang kian hari terus bertambah pesat, hingga mereka tidak tertinggal atau bahkan larut dalam perkembangan secara tidak sadar. Gejala dan krisis moral anak remaja saat ini dan para muda-mudi tampaknya sudah terlalu jauh walaupun perkembangan itu bergerak belum begitu jauh, dalam pengertian belum sebanding, bisa diprediksikan gejala dan krisis moral tersebut ini akan terus bertambah apabila tanpa sentuhan pendidikan agama yang memadai, apalagi harus berhadapan dengan lingkungan yang semakin tidak terbaca lagi dengan kaedah budaya, agama dan sosial. 

Ilmu pengetahuan agama adalah jawaban untuk segala tantangan baru bagi perkembangan para remaja, dengan pengetahuan agama terkontrol terhadap moral dari penggeseran nilai-nilai budaya dan sosial dapat terdeteksi dan menjadi filter dalam menerima setiap perkembangan. Anak-anak merupakan bentuk kepolosan mental yang hakiki, mereka bisa diantar kemanapun orang yang mengantarnya, dan kita sebagai pemimpin hari ini untuk mereka anakyatim dan fakir miskin, atau kita hanya cuma menonton pertujukan-pertujukan yang suatu saat mata kita berdarah.

B. Langkah Inisiatif dari berbagai alternatif dari wacana serhadana di atas, langkah-langkah yang mesti disusun secermat dan sejelis mungkin adalah dengan memberi pendidikan agama semaksimal mungkin, dimana perkembangan mental yang baru tumbuh, dengan mendapat sentuhan ilmu pengetahuan agama, dasar memilah dan memilih antara yang baik dengan yang tidak menjadi bagian yang pertama mengisi mental mereka dalam arti lain sebelum kita mencoba memasukkan yang lain dalam pikiran mereka ( anak yatim dan fakir miskin ), kita terlebih dahulu memasang filter dalam sistem perangkat pikiran mereka, kita berusaha memberikan pendidikan agama semaksimal mungkin, agar mereka memahami agama secara jelas dan memiliki modal untuk memilih setiap perkembangan sosial, teknologi dan budaya dalam kaca mata agama. Agar pelangaran tata nilai agama yang telah jauh dari santri menjadi tertata kembali, sekaligus menjadi santri yang taat dan berbakti.
 
C. Sasaran Sasaran yang menjadi tanggung jawab saat ini yaitu menciptakan wadah pendidikan yang tepat dan potensial terhadap kondisi masyarakat tanpa harus terbebani tetapi mereka tetap anak yatim piatu dan fakir miskin yang mempunyai peluang dan kualitas ilmu serta sistem pendidikan yang baik. Maka dari kajian tersebut lahirlah gagasan untuk mendirikan suatu pendidikan, yang merupakan suatu wadah Pondok Pasantren dalam menciptakan generasi madani. Yang Insya Allah dalam kesederhanaan dan keterbatasan telah mencoba menyentuh masyarakat sekitar lingkungannya, untuk memposisikan Pasantren / Dayah Istiqamatuddin Serambi Aceh menjadi tujuan pendidikan agama mereka dan hingga saat ini juga dengan kehendak Allah telah menjadi bagian dari anak-anak santri. Pondok Pasantren / Dayah Istiqamatuddin Serambi Aceh merupakan Dayah yang sedang berkembang saat ini yang bergerak dalam bidang sosial. Dengan segala keterbatasan hingga saat ini Pondok Pasantren / Dayah Istiqamatuddin Serambi Aceh telah menampung santri 160 orang dengan guru 11 orang.

D. Tujuan Pendidikan Pendidikan dan pengajaran di Dayah Istiqamatuddin Serambi Aceh di tujukan kearah pembentukan Sumber Daya Manusia yang berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas, beramal ikhlas guna mengabdi di masyarakat.Anak didik diharapkan tumbuh menjadi manusia yang berwawasan keagamaan yang universal dan kosmopolitan, agar memiliki kemampuan tinggi dalam menghadapi kehidupan masyarakat modern dan menghindari pengaruh budaya westernisasi dan menyiram kesegaran batin generasi muda yang menjadi korban sekulerisme budaya asing. Demikian juga pendidikan dan pengajarannya senantiasa diarahkan untuk berperan aktif membina keteguhan, keimanan dan berjihat di jalan Allah, berpegang taguh pada Al-Quran, Sunnah Rasul, Ijma` Ulama, serta Qiyas yang berwawasan Ahli Sunnah. 

E. Organisasi dan Kelembagaan Pondok Pesantren. 
1. Pimpinan Dayah.     
    a.Wadir Bidang Pendidikan.    
    b.Wadir Bidang Keuangan.    
    c. Wadir Bidang Pengembangan dan Kesantrian. 

F. Organisasi Otonomi    
1. Koperasi Pesantren (Kopontren)    
2. Majlis Ta`lim   
3. T P A H. Jumlah Santri Jumlah santri yang belajar di Dayah Serambi Aceh sekarang ini adalah sebanyak         160 orang. yang terdiri dari 110 santriwan dan 50 santriwati. 

G. Kedisiplinan/tugas.
 1. Santriwan/santriwati. 
    a). Mengikuti pelajaran setiap belajar (pagi, sore, malam) 
    b). Mengikuti shalat berjama`ah setiap waktu 
    c). Memakai busana muslim, seragam putih sewaktu belajar 
    d). Dilarang memasak dengan siswa yang bukan mahram 
    e). Dilarang masuk kamar orang lain tanpa izin
    f). Dilarang keluar komplek tanpa izin 
   g). Tidak boleh keluar mushalla sebelum selesai wirid 
   h). Menghentikan segala kegiatan sewaktu azan 
   i). Mengikuti dalail khairat/muhadharah pada malam Jum`at j). Dan lain-lain. 

2. Wali murid 
a). Mengantar dan menjemput pelajar putri 
b). Setiap masuk komplek wajib berbusana muslim/muslimah 
c) Antar/jemput santriwan/wati sepengetahuan pimpinan 
d). Bagi yang melanggar ketentuan diatas dikenakan sanksi    
 
H. Tenaga pendidik/guru. Peranan dan tenaga pendidik sangat penting dalam pendidikan, betapapun baiknya konsep sebuah lembaga yang didukung oleh fasilitas dan prasarana yang cukup lengkap, namun akan kurang nilainya bila ditangani oleh guru yang kurang berkualitas.
 
Oleh karena demikian rekruitmen guru di Dayah Istiqamtuddin Serambi Aceh dilakukan dengan proses seleksi, dimana guru yang ditempatkan pada tingkatan kelas disesuaikan dengan kemampuan intelektual mereka. Jumlah tenaga guru pendidik pada Dayah Istiqamatuddin Serambi Aceh Desa Cot keumude saat ini berjumlah 11 guru, dimana 10 guru laki-laki dan 1 guru perempuan .Keseluruhan guru yang mengajar di Dayah Serambi Aceh adalah alumni dari Dayah itu sendiri yang telah menguasai dan menjiwai nilai dan sunnah pesantren tersebut. 
 
Sumber : http://www.babuljannahtv.com  

Ini Isi Surat Pernyataan Perang Belanda untuk Aceh

Pada 26 Maret 1873, Belanda menyatakan ultimatum perang terhadap Kerajaan Aceh dari atas geladak kapal uap Citadel van Antwerpen yang berlabuh di perairan Aceh Besar.  Seperti apa bunyinya?


Sebuah  koran berbahasa Inggris, Javasche Courant, mempublikasikan sebagian isi ultimatum perang itu pada tanggal 3 April 1873.
Begini bunyinya:

Menimbang:
dsb.dsb.:
Berdasarkan kekuasaan dan wewenang yang diberikan kepadanya oleh Pemerintah
Hindia Belanda, maka dengan ini, atas nama Pemerintah tersebut:
MENYATAKAN PERANG
Kepada
Sultan Aceh
Dan pernyataan ini lebih lanjut memberitahukan pula kepada setiap orang yang bersangkutan serta memperingatkan kepada setiap orang akan segala akibat yang mungkin ditimbulkan olehnya serta kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada setiap warga negara di dalam masa peperangan.
Termaktub di kapal uap Sri Baginda Raja “Citadel van Antwerpen” yang berlabuh di
Perairan Aceh Besar, pada hari ini, Rabu, tanggal 26 Maret 1873.
ttd.
NIEUWENHUYZEN
Sumber: Dikutip dari buku Perang Kolonial Belanda di Aceh, terbitan 1977. Buku ini dikerjakan oleh sebuah tim khusus. Presiden Indonesia saat itu, Soeharto, ikut memberikan kata sambutan.

Peristiwa 11 September 2001 Dan Akibatnya Terhadap Hubungan Islam Kristen


Pada tanggal 11 September 2001 yang lalu pandangan seluruh dunia terpusat kepada peristiwa yang sangat mengejutkan, dua pesawat berpenumpang yang dibajak menabrak Menara Kembar World Trade Center di New York. Berita selanjutnya mengatakan bahwa satu pesawat lagi menghantam gedung Pentagon (gedung yang selama ini dikenal sebagai pusat pertahanan Amerika Serikat) dan satu lagi jatuh di pedesaan Pennsylvania (yang sebenarnya menuju ke Gedung Putih). Berkat kecanggihan dunia tekhnologi komunikasi sekarang ini kita semua dapat menyaksikan bagaimana pesawat satu lagi menabrak menara kedua WTC. Peristiwa ini secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi dunia. Dunia tidak akan pernah menjadi sama lagi setelah peristiwa tersebut.

Tidak lama setelah itu, nama Osama bin Laden menjadi tekenal. Dia dan jaringan Al-Qaedanya dituduh pemerintah Amerika Serikat sebagai dalang dari semua peristiwa ini. Tanpa bukti yang jelas (baru pada tanggal 13 Desember 2001 pemerintah Amerika Serikat menyebarluaskan bukti mereka atas rekaman video yang memperlihatkan Osama bin Laden berbincang-bincang dalam jamuan makan dengan beberapa pembantunya dan seorang Syeikh Yahudi yang tak dikenal), pemerintah Amerika Serikat dengan lantang mengatakan Osama bin Laden berada di belakang semuanya dan kemudian mengultimatum pemerintah Afganistan yang selama ini melindungi Osama agar menyerahkannya dan pengikut-pengikutnya yang berlindung di sana. Akhirnya pada hari Minggu malam, tanggal 7 Oktober 2001, Amerika Serikat memulai serangannya dengan menjatuhkan bom di atas Afganistan.

Peristiwa ini telah banyak menimbulkan pro dan kontra, bahkan cenderung menjadi sentimen Muslim dan non-Muslim. Sebagian besar warga Muslim menganggap ini sebagai jihad, dan kemudian menganggap Osama bin Laden sebagai seorang pahlawan yang mampu menentang kemapanan Amerika Serikat. Di lain pihak, sentimen terhadap orang Muslim juga meningkat. Komunitas Arab-Amerika mendapat ancaman dari orang-orang yang tidak dikenal. Pandangan curiga dialamatkan kepada mereka (masyarakat Muslim). Ternyata peristiwa 11 September memiliki dampak global terhadap hubungan Islam dan non-Islam, terutama Kristen.

Selasa Hitam 11 September 2001

Peristiwa yang mengejutkan dunia ini adalah sebuah “tragedi nasional bagi Amerika Serikat.” Tak kurang dari 5000 orang meninggal, dan gedung-gedung utama di Amerika Serikat runtuh. Serangan ini telah menimbulkan kepanikan, bahkan Badan Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat menutup wilayah udara Amerika dan menyatakannya sebagai zona larangan terbang. Hari Jumat, 14 September 2001, Amerika Serikat mengadakan upacara Misa berkabung di Gereja Katedral Washington DC untuk memperingati dan mendoakan korban tragedi nasional 11 September 2001. Secara khusus di dalam kebaktian tersebut, Presiden Bush memberikan pidatonya dan menyampaikan rasa berdukanya. Menarik untuk dicatat bahwa setiap kali Bush menyampaikan pidatonya, Bush selalu mengakhirinya dengan “God Bless…” Bahkan dalam Misa tersebut, dalam menguatkan para keluarga korban, Bush mengambil Mazmur 23 sebagai nas penghibur dan penguat bagi mereka yang sedang berduka.

Pada hari yang sama di Masjid Islamic Cultural Centre, New York, shalat Jumat di tempat itu dilengkapi dengan sakat jenazah untuk para korban. Sang imam mengajak berbelasungkawa dan mendoakan para korban WTC. “Siapa pun saya pikir tidak akan setuju dengan tindakan kejam seperti itu. Saya pikir pelakunya bukanlah muslim sejati,” kata Yunus, seorang pengurus masjid megah di New York itu kepada wartawan TEMPO.

Sehari setelah serangan tersebut Presiden Bush dengan segera menyatakan Perang Terhadap Teroris. Bahkan dengan cepat mereka mengatakan “dari semua kemungkinan yang ada, milyuner Osama bin Laden merupakan satu-satunya yang mendekati. Dengan alasan dia memiliki cukup dana, organisasi, serta kenekatan dalam melakukan serangan di beberapa institusi intelijen AS, termasuk peledakan Kedubes AS di Afrika Timur.” Bahkan pada saat itu juga dikemukakan bahwa Intelijen AS menangkap pembicaraan di antara orang-orang yang terlibat dengan Osama dan menyinggung serangan di WTC dan Pentagon. Yang membuatnya lebih menarik lagi adalah pernyataan Presiden Bush yang keseleo dengan menyatakan Amerika Serikat akan melakukan crusades (Perang Salib) melawan Teroris

Reaksi Dunia

Dunia luar segera mengutuk serangan ini. NATO juga dengan segera menyepakati kesepakatan untuk melawan teroris pada tanggal 12 September 2001 sore. Kongres Amerika dengan segera menyetujui proposal anggaran perang untuk menghancurkan teroris yang diajukan oleh pemerintah dan menyediakan dana US$ 40 miliar, serta mempersiapkan 50 ribu tentara cadangan untuk pergi berperang. Presiden Bush dalam pidatonya di depan Kongres, Rabu, 20 September 2001, mendesak dunia untuk mendukungnya menghadapi teroris dunia, “Anda bersama kami atau bersama teroris.” Bush juga mendesak Taliban untuk menyerahkan Osama serta seluruh jaringan pemimpin Al-Qaeda ke Amerika Serikat.

Taliban kemudian menjadi terpojok ketika negara-negara tetangganya berpihak kepada Amerika Serikat. Pakistan, yang adalah lebih dari sekedar sahabat bagi Taliban menyatakan secara resmi dukungannya terhadap AS. Hal ini menyulut demonstrasi di dalam negeri. Cina secara umum mendukung seruan AS untuk beraksi melawan terorisme. Tajikistan juga menjadi basis penting bagi tentara AS. Uzbekistan telah menjadi basis bagi oposisi Taliban yang berbasis di utara. Turkmenistan tidak ingin terlalu terlibat. Iran menjadi salah satu kunci aliansi anti-Taliban karena dendam masa lalunya terhadap Taliban. 

Negara-negara Arab juga menyatakan dukungannya terhadap Amerika Serikat. OKI (Organisasi Negara Islam) menyatakan bahwa mereka menolak dengan tegas serangan teroris yang menimpa AS, namun aksi balasan tidak boleh mengenai sasaran sipil yang tidak terkait dan tidak boleh pula meluas ke sasaran lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan serangan teroris di AS itu. Alasan ini membuat AS semakin berani melanjutkan rencana serangan mereka ke Afganistan dengan menggunakan peralatan perang mereka dengan tekhnologi tercanggih yang menggunakan sistem satelit sehingga rudal dan bom jarak jauh dapat dikontrol melalui satelit. Hal ini telah membuat Taliban terjepit. Para ulama Afganistan pun mengeluarkan fatwa bagi pemerintah Taliban untuk meminta Osama bin Laden meninggalkan negara itu secara sukarela, permintaan ini kemudian ditolak oleh Taliban.

Namun demonstrasi menentang serangan kepada Taliban juga tidak kalah gencarnya. Warga Pakistan cukup banyak yang menentang kebijakan pemerintahnya yang mendukung AS, dan akhirnya ikut mengangkat senjata melawan AS. Indonesia sendiri diramaikan dengan aksi demonstrasi menentang penyerangan Amerika ke Afganistan. Ribuan demonstran turun ke jalan di berbagai kota di Inggris (Sabtu, 22/9) untuk memprotes ancaman AS untuk melakukan serangan militer ke Afganistan. Aksi ini hanya satu dari gelombang aksi protes anti-peperangan di sejumlah negara di Eropa.

Pada tanggal 7 Oktober 2001 Amerika memulai penyerangannya ke Afganistan para penerbang yang melaksanakan penyerangan itu mengatakan bahwa mereka bangga menjadi bagian dari sebuah misi yang merupakan sebuah pertempuran bagi kebebasan, dan mengatakan bahwa mereka terlatih dan berperlengkapan dengan baik untuk pertempuran itu. Sejak itu telah banyak rakyat Afganistan yang menjadi korban serangan yang “tidak mengenai sasaran”. Dan Osama bin Laden juga menyerukan jihad melawan AS serta bersumpah bahwa AS tidak akan menikmati keamanan sebelum umat Islam menikmati keamanan dan hengkangnya pasukan asing dari Jazirah Al Arab.

Dampak Terhadap Hubungan Islam dan Kristen di Dunia

Benturan diskrimiatif terhadap warga negara keturunan Arab di Amerika segera meningkat setelah kejadian tersebut. Tercatat ada ratusan insiden, mulai dari penghinaan sampai pembunuhan, yang dilakukan terhadap orang-orang yang warna kulit dan rambutnya tampak seperti orang-orang yang ada di Timur Tengah. Bahkan seorang anggota Parlemen lokal di sana sudah menganjurkan dilancarkannya semacam sweeping terhadap “orang-orang bersorban” di jalan-jalan bebas hambatan. Adalah Presiden Bush sendiri yang mengobarkan semangat anti-Islam, tatkala dia memakai kata crusade (perang salib) terhadap terorisme, yang kurang mengindahkan perasaan umat Islam. 

Yang paling mengejutkan adalah ucapan PM Italia Silvio Berlusconi, yang mengatakan bahwa peradaban Barat lebih unggul daripada peradaban Islam. “Barat harus yakin akan superioritas kebudayaan kita”, dan menyimpulkan bahwa “kebudayaan kita (Barat) lebih unggul daripada kebudayaan Islam.” Meskipun Berlusconi dengan cepat meralat ucapannya, namun hal ini telah menunjukkan bahwa adanya perasaan lebih unggul atas umat Islam.

Paus Yohanes Paulus II hari Minggu (23/9) mengeluarkan imbauan bagi kaum Kristen dan Muslim untuk bekerja sama menghindari perpecahan dan pertumpahan darah lebih lanjut menyusul serangan teroris di AS pada tanggal 11 September 2001. Beliau menyatakan, “Saya mohon pada Tuhan untuk menjaga dunia dalam perdamaian.” Kemudian beliau secara khusus mendoakan AS dan mendesak seluruh pihak yang terkena dampak serangan teror tersebut untuk tetap bertahan dan meningkatkan komitmen pada perdamaian.

Ketika serangan AS terus berlanjut di bulan suci Ramadhan, reaksi umat Islam dengan keras menentang hal ini. Dalam perang AS-Afganistan, Bush mau tidak mau, dihadapkan pada persoalan iman, karena masyarakat yang dihantamnya adalah pemeluk agama Islam yang taat. Jauh sebelum memulai serangannya Bush, yang kemudian ditegaskan oleh sekutunya, PM Blair, sudah menegaskan bahwa serangan yang dilakukannya ke Afganistan bukan peperangan melawan Islam, melainkan peperangan melawan terorisme. Sebagian masyarakat Islam menolak pernyataan Bush dan Blair dan mencurigai pernyataan perang melawan terorisme yang dilontarkan kedua pemimpin bangsa itu dianggap sebagai pembungkus serangan ideologi. Hal ini dikaitkan dengan persoalan Barat yang dituduh anti-Islam, karena Afganistan adalah negara yang berpenduduk mayoritas Islam dan Taliban yang berkuasa menerapkan hukum syariat Islam. Belum lagi kecurigaan umat Islam terhadap orang-orang Yahudi yang diduga mendikte AS untuk mensukseskan tujuannya, menghancurkan Islam.

 Pro dan kontra terhadap serangan AS merupakan realitas yang tidak bisa dipungkiri. Orang-orang yang anti-AS berupaya keras menonjol-nonjolkan sesuatu yang dibenci AS. Osama bin Laden yang dibenci AS mendadak dijadikan idola kelompok Islam anti-AS. Gambarnya ditempelkan di mana-mana, ditempelkan di kaus dan dibingkai.

Dampak Terhadap Hubungan Islam dan Kristen di Indonesia

Indonesia, melalui kunjungan Presiden Megawati ke AS, telah sepakat dalam mempererat kerjasama dalam usaha global memerangi terorisme internasional. Namun, kebijakan ini mendapat tantangan dari kelompok Islam garis keras di Indonesia. Aksi-aksi menentang kebijakan AS yang merencanakan aksi militer ke Afganistan berlangsung dengan keras di sejumlah kota di Indonesia. Sebutkanlah kelompok-kelompok seperti FPI (Front Pembela Islam), Hizbuthahrir, HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), HAMMAS (Himpunan Mahasiswa Muslim Antar Kampus), KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam), dan gerakan ormas Islam lainnya berdemonstrasi di sejumlah kota. Di Solo, Laskar Jundulah mengancam akan melakukan razia terhadap warga AS di kota itu.

Mereka menilai bahwa AS sedang mengelola isu untuk mendiskreditkan umat Islam. Jika tetap dilakukan, maka AS akan mendapat perlawanan bersama dari umat Islam. Selain mengingatkan AS, mereka juga mendesak pemerintahan Megawati untuk tidak terjebak kepada kepentingan AS yang selalu mencurigai umat Islam. Aksi-aksi kelompok ini bahkan sudah menjurus kepada kekerasan. Aksi (atau masih dikatakan isu) sweeping yang marak mengakibatkan pulangnya warga negara AS dan sejumlah warga negara asing lainnya ke negaranya masing-masing.

Boikot terhadap produk Amerika juga sempat dilancarakan oleh kelompok-kelompok ini. Aksi boikot, bahkan kalau bisa dikatakan penutupan secara paksa, dilakukan terhadap beberapa restoran ‘berbau’ Amerika seperti McDonald’s.

Dalam sejumlah acara-acara di radio dan di televisi banyak warga Indonesia yang terus terang mensyukuri serangan teroris tersebut dengan mengatakan itu adalah hukuman dari Allah terhadap kesombongan Amerika. Osama bin Laden kemudian menjadi pahlawan. Kaus-kaus yang bergambarkan Osama, dan juga posternya menjadi sangat laris dijual di Indonesia pada saat ini. Meskipun demikian, banyak juga pihak Islam yang lebih moderat yang mengutuk orang yang mensyukuri kejadian tersebut dan menyatakan turut berdukacita atas kasus WTC tersebut, dan sekaligus menghimbau AS untuk tidak menyerang warga sipil.

Dalam hal ini, pihak Kristen sendiri sepertinya bersikap hati-hati dalam menangani sikap ini. Diamnya orang Kristen bisa menandakan adanya dilema sikap dalam menghadapi masalah ini.

Sebuah Refleksi

Tragedi di New York dan Washington 11 November yang lalu mengantarkan Osama bin Laden dan jaringan Al-Qaedanya sebagai tersangka utama di balik tragedi tersebut, merupakan titik kulminasi dari lika-liku hubungan tegang dan saling curiga antara Washington dan gerakan Islam politik selama lebih dari dua dekade ini.

Pada awal dekade perang dingin, Amerika berhadapan dengan gerakan-gerakan negara Arab yang sangat kental ke-Islamannya. Beberapa bentrokan sempat terjadi di tahun 1973-1980. Pada awal 1981, Ronald Reagan mengubah kebijakannya terhadap Islam politik dan membantu semua gerakan Islam politik untuk menangkal pengaruh komunis blok Uni Sovyet. Namun kemudian di akhir era Ronald Reagan, dengan kalahnya blok komunis, AS memilih berhadapan kembali dengan Islam politik, dimulai dengan menjatuhkan sanksi terhadap Iran.

Peristiwa pengeboman WTC pada tahun 1993 terbongkar adanya aksi dari Islam militan untuk menteror AS karena dukungannya terhadap Israel. Sejak itu citra umat Islam dan Arab mulau buruk di mata warga AS. Faktor Yahudi yang menguasai perekonomian AS menjadi salah satu citra buruk AS di mata Islam politik.

Peristiwa yang terjadi pada tanggal 11 September 2001 di New York, Amerika Serikat – terlepas dari semua sentimen keagamaan – memang harus dikutuk. Semua media massa di dunia terpusat pandangannya kepada apa yang terjadi di New York pada waktu itu. Hingga saat ini berita mengenai perang Amerika melawan Afganistan tetap menjadi topik yang paling laku dijual di Indonesia, setelah berita penangkapan Tommy. Media massa sepertinya menyediakan porsi yang lebih besar bagi rancangan-rancangan serangan, peperangan, dan kekerasan yang lain daripada upaya-upaya mendamaikan suasana.

Secara umum, tragedi 11 September ini hanya berakibat buruk bagi seluruh dunia, dan pada hubungan Islam dan Kristen pada umumnya. Orang lebih cenderung melihat Amerika dengan budaya Baratnya, yang adalah Kristen, kapitalis, penguasa media, dan memiliki uang yang banyak yang ingin menghabiskan Islam, dengan budaya Timurnya, yang ekonominya lemah dan tidak begitu kuat jaringan medianya. Persoalan ini hanyalah puncak dari sebuah pertentangan antara Amerika Serikat dan pihak Islam politik. Saya hanya ingin menegaskan “Hentikan kekerasan, karena kekerasan tidak bisa dipakai untuk mengatasi kekerasan.”

* Tulisan ini adalah paper akhir penulis bagi mata kuliah Sejarah Perjumpaan Kristen dengan Islam Desember 2001, dengan penyesuaian.

Sejarah Perang Aceh Melawan Belanda, 1873-1904

Perang Aceh ialah perang Kesultanan Aceh melawan Belanda dimulai pada 1873 sampai 1904. Kesultanan Aceh menyerah pada 1904, tapi perlawanan rakyat Aceh dengan perang gerilya terus berlanjut. Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh, & mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen.

Pada 8 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Kรถhler, & langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman. Kรถhler saat itu membawa 3. 198 tentara. Sebanyak 168 di antaranya para perwira.

Penyebab Terjadinya Perang Aceh

Perang Aceh disebabkan karena:
Belanda menduduki daerah Siak. Akibat dari Perjanjian Siak 1858. Di mana Sultan Ismail menyerahkan daerah Deli, Langkat, Asahan & Serdang kepada Belanda, padahal daerah-daerah itu sejak Sultan Iskandar Muda, berada di bawah kekuasaan Aceh.

Belanda melanggar perjanjian Siak, maka berakhirlah perjanjian London tahun 1824. Isi perjanjian London ialah Belanda & Britania Raya membuat ketentuan tentang batas-batas kekuasaan kedua daerah di Asia Tenggara yaitu dengan garis lintang Singapura. Keduanya mengakui kedaulatan Aceh.
Aceh menuduh Belanda tak menepati janjinya, sehingga kapal-kapal Belanda yg lewat perairan Aceh ditenggelamkan oleh pasukan Aceh. Perbuatan Aceh ini didukung Britania.

Dibukanya Terusan Suez oleh Ferdinand de Lesseps. Menyebabkan perairan Aceh menjadi sangat penting untuk lalu lintas perdagangan.

Ditandatanganinya Perjanjian London 1871 antara Inggris & Belanda, yg isinya, Britania memberikan keleluasaan kepada Belanda untuk mengambil tindakan di Aceh. Belanda harus menjaga keamanan lalulintas di Selat Malaka. Belanda mengizinkan Britania bebas berdagang di Siak & menyerahkan daerahnya di Guyana Barat kepada Britania.

Akibat perjanjian Sumatera 1871, Aceh mengadakan hubungan diplomatik dengan Konsul Amerika Serikat, Kerajaan Italia, Kesultanan Usmaniyah di Singapura. Dan mengirimkan utusan ke Turki Usmani pada tahun 1871.

Akibat hubungan diplomatik Aceh dengan Konsul Amerika, Italia & Turki di Singapura, Belanda menjadikan itu sebagai alasan untuk menyerang Aceh. Wakil Presiden Dewan Hindia Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen dengan 2 kapal perangnya datang ke Aceh & meminta keterangan dari Sultan Machmud Syah tentang apa yg sudah dibicarakan di Singapura itu, tetapi Sultan Machmud menolak untuk memberikan keterangan.

Strategi Siasat Snouck Hurgronje Mata-mata Belanda

Untuk mengalahkan pertahanan & perlawan Aceh, Belanda memakai tenaga ahli Dr. Christiaan Snouck Hurgronje yg menyamar selama 2 tahun di pedalaman Aceh untuk meneliti kemasyarakatan & ketatanegaraan Aceh. Hasil kerjanya itu dibukukan dengan judul Rakyat Aceh [De Acehers]. Dalam buku itu disebutkan strategi bagaimana untuk menaklukkan Aceh. Usulan strategi Snouck Hurgronje kepada Gubernur Militer Belanda Joannes Benedictus van Heutsz adalah, supaya golongan Keumala [yaitu Sultan yg berkedudukan di Keumala] dengan pengikutnya dikesampingkan dahulu.

Tetap menyerang terus & menghantam terus kaum ulama. Jangan mau berunding dengan pimpinan-pimpinan gerilya. Mendirikan pangkalan tetap di Aceh Raya. Menunjukkan niat baik Belanda kepada rakyat Aceh, dengan cara mendirikan langgar, masjid, memperbaiki jalan-jalan irigasi & membantu pekerjaan sosial rakyat Aceh. Ternyata siasat Dr Snouck Hurgronje diterima oleh Van Heutz yg menjadi Gubernur militer & sipil di Aceh [1898-1904]. Kemudian Dr Snouck Hurgronje diangkat sebagai penasehatnya.

Kronologi Perang Aceh Pertama

Perang Aceh Pertama [1873-1874] dipimpin oleh Panglima Polim & Sultan Mahmud Syah melawan Belanda yg dipimpin Kรถhler. Kรถhler dengan 3000 serdadunya dapat dipatahkan, dimana Kรถhler sendiri tewas pada tanggal 14 April 1873. Sepuluh hari kemudian, perang berkecamuk di mana-mana. Yang paling besar saat merebut kembali Masjid Raya Baiturrahman, yg dibantu oleh beberapa kelompok pasukan. Ada di Peukan Aceh, Lambhuk, Lampu’uk, Peukan Bada, sampai Lambada, Krueng Raya.

Beberapa ribu orang juga berdatangan dari Teunom, Pidie, Peusangan, & beberapa wilayah lain. Perang Aceh Pertama ialah ekspedisi Belanda terhadap Aceh pada tahun 1873 yg bertujuan mengakhiri Perjanjian London 1871, yg menindaklanjuti traktat dari tahun 1859 [diputuskan oleh Jan van Swieten]. Melalui pengesahan Perjanjian Sumatera, Belanda berhak mendapatkan pantai utara Sumatera yg di situ banyak terjadi perompakan. 

Komisaris Pemerintah Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen yg mengatur Aceh mencoba mengadakan perundingan dengan Sultan Aceh namun tak mendapatkan apa yg diharapkan sehingga ia menyatakan perang pada Aceh atas saran GubJen James Loudon. Blokade pesisir tak berjalan sesuai yg diharapkan.

Belanda kemudian memerintahkan ekspedisi pertama ke Aceh, di bawah pimpinan Jenderal Johan Harmen Rudolf Kรถhler & sesudah kematiannya tugasnya digantikan oleh Kolonel Eeldert Christiaan van Daalen. Dalam ekspedisi tersebut dipergunakan senapan Beaumont untuk pertama kalinya namun ekspedisi tersebut berakhir dengan kembalinya pasukan Belanda ke Jawa. Tak dapat disangkal bahwa Masjid Raya Baiturrahman direbut 2 kali [dan di saat yg kedua kalinya tewaslah Kรถhler]. 

Terjadi serbuan beruntun ke istana pada tanggal 16 April di bawah pimpinan Mayor F. P. Cavaljรฉ namun tak dapat menduduki lebih lanjut karena keulungan orang Aceh serta banyaknya serdadu yg tewas & terluka. Serdadu Belanda tak cukup persiapan yg harus ada untuk serangan tersebut. Di samping itu, jumlah artileri [berat] tak cukup & mereka tak cukup mengenali musuh. Mereka sendiri harus menarik diri dari pesisir & atas petunjuk Komisaris F. N. Nieuwenhuijzen [yang menjalin komunikasi dengan GubJen Loudon] & kembali ke Pulau Jawa.

Menurut George Frederik Willem Borel, kapten artileri, serdadu dapat memperoleh pesisir bila mendapatkan titik lain yg agak lebih kuat, namun Komandan Marinir Koopman tak dapat memberikan kepastian bahwa ada hubungan yg teratur antara bantaran sungai & saat itu sedang berlangsung muson yg buruk, yg karena itulah kedatangan pasukan baru jadi sulit. Setelah kembalinya ekspedisi itu, angkatan tersebut banyak disalahkan akibat kegagalan ekspedisi itu. 

Dari situlah GubJen James Loudon mengadakan penyelidikan di mana para bawahan harus memberikan penilaian atas atasan mereka. Penyelidikan tersebut kemudian juga banyak menuai kontroversi & menimbulkan “perang kertas” sesudah Perang Aceh I [dokumen & tulisan pro & kontra penyelidikan tersebut terjadi terus menerus].

Penyelidikan itu masih berawal, sesudah Perang Aceh II, ketika kapten & kepala staf Brigade II GCE. van Daalen menolak untuk ditekan GubJen Loudon. Alasan sebelumnya ialah selama itu Loudon telah memerintahkan penyelidikan yg untuk itu pamannya EC. van Daalen, yg merupaken panglima tertinggi ekspedisi pertama sesudah kematian panglima tertinggi sebelumnya Johan Harmen Rudolf Kohler, sebagai orang jenius yg malang sesudah kegagalan ekspedisi tersebut, dihadirkan & selama penyelidikan itu [meskipun kemudian meninggal] Van Daalen, komandan Pasukan Hindia, Willem Egbert Kroesen mengetahui bahwa pemerintah Hindia-Belanda tak diberi cukup informasi atas terganggunya pembekalan senjata pada pasukan itu. 

Loudon tak mengizinkan Van Daalen [keponakan] mendapatkan Militaire Willems-Orde & untuk itu memandang bahwa Van Daalen harus terus dikirimi uang tunjangan pensiun. Raja Willem II mulai menganugerahkan Medali Aceh 1873-1874 pada tanggal 12 Mei 1874. Yang khas ialah pembawa medali tersebut juga dapat diberi gesper bertulisan “ATJEH 1873-1874″ pada pita Ereteken voor Belangrijke Krijgsbedrijven. Terdapat pula salib Militaire Willems-Orde & Medaille voor Moed en Trouw.

Perang Aceh Kedua

Pada Perang Aceh Kedua [1874-1880], di bawah Jend. Jan van Swieten, Belanda berhasil menduduki Keraton Sultan, 26 Januari 1874, & dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda. 31 Januari 1874 Jenderal Van Swieten mengumumkan bahwa seluruh Aceh jadi bagian dari Kerajaan Belanda. Ketika Sultan Machmud Syah wafat 26 Januari 1874, digantikan oleh Tuanku Muhammad Dawood yg dinobatkan sebagai Sultan di masjid Indragiri.

Perang Aceh Kedua diumumkan oleh KNIL terhadap Aceh pada tanggal 20 November 1873 sesudah kegagalan serangan pertama. Pada saat itu, Belanda sedang mencoba menguasai seluruh Nusantara. Ekspedisi yg dipimpin oleh Jan van Swieten itu terdiri atas 8. 500 prajurit, 4. 500 pembantu & kuli, & belakangan ditambahkan 1. 500 pasukan. Pasukan Belanda & Aceh sama-sama menderita kolera. Sekitar 1. 400 prajurit kolonial meninggal antara bulan November 1873 sampai April 1874.

Setelah Banda Aceh ditinggalkan, Belanda bergerak pada bulan Januari 1874 & berpikir mereka telah menang perang. Mereka mengumumkan bahwa Kesultanan Aceh dibubarkan & dianeksasi. Namun, kuasa asing menahan diri ikut campur, sehingga masih ada serangan yg dilancarkan oleh pihak Aceh. Sultan Mahmud Syah & pengikutnya menarik diri ke bukit, & sultan meninggal di sana akibat kolera. Pihak Aceh mengumumkan cucu muda Tuanku Ibrahim yg bernama Tuanku Muhammad Daud Syah, sebagai Sultan Ibrahim Mansur Syah [berkuasa 1874-1903].

Perang pertama & kedua ini ialah perang total & frontal, dimana pemerintah masih berjalan mapan, meskipun ibu kota negara berpindah-pindah ke Keumala Dalam, Indrapuri, & tempat-tempat lain.

Perang Aceh Ketiga,

Perang ketiga [1881-1896], perang dilanjutkan secara gerilya & dikobarkan perang fisabilillah. Dimana sistem perang gerilya ini dilangsungkan sampai tahun 1904. Perang gerilya ini pasukan Aceh di bawah Teuku Umar bersama Panglima Polim & Sultan. Pada tahun 1899 ketika terjadi serangan mendadak dari pihak Van der Dussen di Meulaboh, Teuku Umar gugur. Tetapi Cut Nyak Dhien istri Teuku Umar kemudian tampil menjadi komandan perang gerilya.

Perang Aceh Keempat

Perang keempat [1896-1910] ialah perang gerilya kelompok & perorangan dengan perlawanan, penyerbuan, penghadangan & pembunuhan tanpa komando dari pusat pemerintahan Kesultanan.

Taktik Perang belanda Menghadapi Aceh

Taktik perang gerilya Aceh ditiru oleh Van Heutz, dimana dibentuk pasukan marรฉchaussรฉe yg dipimpin oleh Hans Christoffel dengan pasukan Colone Macan yg telah mampu & menguasai pegunungan-pegunungan, hutan-hutan rimba raya Aceh untuk mencari & mengejar gerilyawan-gerilyawan Aceh. Taktik berikutnya yg dilakukan Belanda ialah dengan cara penculikan anggota keluarga gerilyawan Aceh. Misalnya Christoffel menculik permaisuri Sultan & Tengku Putroe [1902].

Van der Maaten menawan putera Sultan Tuanku Ibrahim. Akibatnya, Sultan menyerah pada tanggal 5 Januari 1902 ke Sigli & berdamai. Van der Maaten dengan diam-diam menyergap Tangse kembali, Panglima Polim dapat meloloskan diri, tetapi sebagai gantinya ditangkap putera Panglima Polim, Cut Po Radeu saudara perempuannya & beberapa keluarga terdekatnya. Akibatnya Panglima Polim meletakkan senjata & menyerah ke Lhokseumawe pada Desember 1903. Setelah Panglima Polim menyerah, banyak penghulu-penghulu rakyat yg menyerah mengikuti jejak Panglima Polim.

Taktik selanjutnya, pembersihan dengan cara membunuh rakyat Aceh yg dilakukan di bawah pimpinan Gotfried Coenraad Ernst van Daalen yg menggantikan Van Heutz. Seperti pembunuhan di Kuta Reh [14 Juni 1904] dimana 2. 922 orang dibunuhnya, yg terdiri dari 1. 773 laki-laki & 1. 149 perempuan. Taktik terakhir menangkap Cut Nyak Dhien istri Teuku Umar yg masih melakukan perlawanan secara gerilya, dimana akhirnya Cut Nya Dien dapat ditangkap & diasingkan ke Sumedang.
 

Surat perjanjian tanda menyerah Pemimpin Aceh

Selama perang Aceh, Van Heutz telah menciptakan surat pendek [korte verklaring, Traktat Pendek] tentang penyerahan yg harus ditandatangani oleh para pemimpin Aceh yg telah tertangkap & menyerah. Di mana isi dari surat pendek penyerahan diri itu berisikan, Raja [Sultan] mengakui daerahnya sebagai bagian dari daerah Hindia Belanda, Raja berjanji tak akan mengadakan hubungan dengan kekuasaan di luar negeri, berjanji akan mematuhi seluruh perintah-perintah yg ditetapkan Belanda.

Perjanjian pendek ini menggantikan perjanjian-perjanjian terdahulu yg rumit & panjang dengan para pemimpin setempat. Walau demikian, wilayah Aceh tetap tak bisa dikuasai Belanda seluruhnya, dikarenakan pada saat itu tetap saja terjadi perlawanan terhadap Belanda meskipun dilakukan oleh sekelompok orang [masyarakat]. Hal ini berlanjut sampai Belanda enyah dari Nusantara & diganti kedatangan penjajah baru yakni Jepang [Nippon].

Mengenal Tgk,Syik Awe Geutah Ulama Asal Mekkah yang Datang ke Aceh


Di Desa Awe Geutah, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, ada rumah adat asli Aceh yang masih berdiri kokoh walau usianya sudah ratusan tahun lamanya. Namun, dibalik itu banyak yang tidak mengetahui riwayat tentang pendirinya, Teungku Chik Awe Geutah, seorang ulama yang sangat berperan dalam mengembangkan agama Islam di Aceh.
 
Sayangnya jasa-jasa Teungku Awe Geutah seperti terlupakan. Belum ada sejarawan yang menulis riwayat tentang ulama Sufi itu. Kebanyakan mereka hanya datang untuk melihat pesona Rumoh Aceh yang masih terpelihara keasliannya sampai kini. Tanpa ada yang mau peduli untuk mengabadikannya untuk kita kenang sepanjang masa. Sehingga dikhawatirkan sejarah tentang tokoh ulama besar Aceh tersebut akan punah ditelan masa.

Pihak keluarga Teungku Chik Awe Geutah sendiri sudah banyak yang tidak mengetahui lagi secara mendetail tentang riwayat ulama yang dikenal keramat itu. Makanya untuk menulis kisah tentang Teungku Chik Awe Geutah sangat sulit. Sebab, tidak ada literatur atau referensi sebagai pedoman untuk menguatkan kebenaran penulisan sejarahnya itu.

Untunglah ada seorang peminat sejarah, khususnya tentang riwayat Teungku Chik Awe Geutah, yang masih tersisa di sana. Namanya Teungku Syamaun Cut alias Cut Teumeureuhom. Sebenarnya dia bukan bukan keturunan Teungku Chik Awe Geutah. Tapi kakeknya dulu pernah tinggal bersama anggota keluarga keturunan Teungku Chik Awe Geutah.

Dari cerita-cerita kakeknya itulah dia banyak mengetahui sejarah Teungku Chik Awe Geutah. Malah buruh kilang padi itu punya dokumentasi khusus, dan mengetahui silsilah Teungku Chik Awe Geutah sampai tujuh keturunan hingga saat ini. Nah, tulisan ini berdasarkan penuturannya kepada saya beberapa waktu lalu di bawah rumah Aceh tersebut. Keterangan laki-laki berusia 70 tahun itu, juga dibenarkan beberapa anggota keluarga keturunan Teungku Chik Awe Geutah yang mendampingi kami ketika itu.

Dikisahkan Cut Teumeuruhom, Teungku Chik Awe Geutah bernama asli Abdul Rahim bin Muhammad Saleh. Dia seorang ulama Sufi, yang berasal dari Kan’an, Iraq. Kemudian merantau dan menetap di Desa Awe Geutah, sampai dia meninggal di sana. Namun tidak diketahui persisnya tahun berapa dia pertama kali menginjakkan kaki di desa pedalaman Kecamatan Peusangan Siblah Krueng itu. Di batu nisannya pun tidak tertera tahun meninggal ulama besar tersebut.

Perjalanannya mencari Awe Geutah sebagai tempat menetap, sekaligus mengembangkan agama Islam yang aman dan damai, punya kisah tersendiri. Syahdan sekitar abad ke 13 yang lampau, Abdul Rahim bin Muhammad Saleh sekeluarga, serta tiga pria saudara kandungnya, dan sejumlah pengikutnya melakukan hijrah.

Mereka meninggalkan tanah kelahirannya.Sebab, waktu itu ada pertentangan antar pemeluk agama Islam di sana, meyangkut perbedaan khilafiyah. Untuk menghindari perselisihan yang bisa berakibat perpecahan antar pemeluk agama Islam itulah Abdul Rahim bersama keluarga dan para pengikutnya berinisiatif melakukan hijrah ke tempat lain.

Pencarian untuk mendapatkan negeri yang aman dan tenteram itu, membuat mereka harus menyingggahi beberapa tempat. Pertama Abdul Rahim beserta rombongan mendarat di kepulauan Nicobar dan Andaman di Samudera Hindia. Kemudian singgah di pulau Weh. Lalu ke pulau Sumatera, yang waktu itu mereka menyebutnya pulau Ruja. Di pulau tersebut mereka menetap beberapa saat di Gampong Lamkabeu, Aceh Besar.
 
Merasa belum menemukan tempat yang cocok sebagai tempat menetap, lalu mereka melanjutkan lagi pelayaran. Namun seorang saudara kandung Abdul Rahim tidak mau lagi melanjutkan perjalanan. Namanya tidak diketahui persis. Dia saat itu sudah memantapkan pilihan hatinya untuk bertahan di sana. Konon kabarnya dia kemudian menetap di Tanoh Abee. Di sana dia membangun tempat pengajian. Kelak dia lebih dikenal dengan nama Teungku Chik Tanoh Abee.

Sedangkan pengikut rombongan Abdul Rahim kemudian melanjutkan pengembaraannya. Rombongan tersebut akhirnya mendarat di Kuala Jangka (Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen-red). Sebab, mereka melihatdi situ banyak pelayar yang singgah. Di sana mereka mendapati beberapa toke dari India yang melakukan transaksi penjualan pinang di Kuala Jangka. Salah satunya bernama Cende. Dia mengaku kepada Abdul Rahim, sudah sering pulang-pergi ke Kuala Jangka. Waktu itu Kuala Jangka sudah menjadi pelabuhan yang maju, dan disinggahi para pedagang dari berbagai negara.

Rombongan Abdul Rahim kemudian menetap di Asan Bideun (Sekarang Desa Asan Bideun, Kecamatan Jangka-red). Mereka tinggal beberapa waktu dan mendirikan balai pengajian untuk mengembangkan dan mengajarkan ilmu agama Islam kepada penduduk di sana. Suatu hari Abdul Rahim melihat beberapa perempuan setempat, termasuk istrinya, yang kemudian dikenal dengan nama Teungku Itam, pulang mencuci di sungai dengan berkemben (memakai kain yang menampakkan bagian dada atas). Melihat pemandangan yang tidak biasanya itu, Abdul Rahim punya firasat lain. Dia berkesimpulan, Asan Bideun bukanlah tempat yang cocok sebagai tempat mereka menetap. Negeri itu sudah laklim.

Lalu mereka sepakat pindah ke tempat lain. Kali ini rombongan terpecahb lagi, mereka terbagi tiga kelompok. Satu kelompok yang dipimpin adiknya Abdul Rahim menuju Paya Rabo dan menetap di sana (Sekarang Desa Paya rabo masuk wilayah Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara). Kelompok yang dipimpin adiknya yang lain pergi dan menetap di Pulo Iboh (Sekarang masuk wilayah Kecamatan Jangka).

Sedangkan satu kelompok lagi yang dipimpin Abdul Rahim sendiri hijrah ke Keudee Asan (Sekarang masuk wilayah Kecamatan Peusangan Selatan). Di sana rombongan tersebut sempat menetap beberapa waktu, dan mengadakan pengajian bagi penduduk setempat.

Namun setelah sekian lama menetap di Keudee Asan, dia merasa tempat itu belum cocok untuk dijadikan tempat menetap yang benar-benar sesuai keinginannya. Untuk itulah Abdul Rahim melaksanakan shalat istikharah empat malam berturut-turut, untuk memohon petunjuk dari Allah, dan harus naik ke atas bukit menghadap empat arah penjuru mata angin.

Malam pertama setelah Abdul Rahim melaksanakan shalat istikharah tengah malam, dia naik ke sebuah bukit yang cukup tinggi, namanya Gle Sibru (Sekarang masuk wilayah Desa Cibrek, Kecamatan Peusangan Selatan). Di atas bukit itu Abdul Rahim berdiri menghadap ke arah selatan. Agak lama juga dia menatap ke sana, namun tidak tampak apa-apa. Yang terlihat hanya pucuk labu. Konon kabarnya, pucuk labu yang dilihat Abdul Rahim itu adalah Desa Geulanggang Labu, Kecamatan Peusangan Selatan sekarang.

Malam kedua, setelah shalat istikharah, Abdul Rahim naik lagi ke atas bukit tersebut. Kali ini dia menghadap ke arah barat, tapi dia tidak melihat apapun. Malam berikutnya dia juga melakukan hal yang sama, dengan menghadap ke arah utara. Hasilnya tetap nihil, tidak mendapatkan petunjuk apa-apa.

Baru pada malam keempat Abdul Rahim mendapatkan hasilnya. Ketika dia menghadap ke arah timur, pandangan matanya terlihat sesuatu. Seberkas cahaya putih bersih dia lihat menyembul di sana. Abdul Rahim berkeyakinan, di daerah sembulan kilauan cahaya itulah tempat yang aman dan damai sebagai tempat tinggal yang permanen.

Maka keesokan harinya mereka langsung berangkat menuju ke daerah asal cahaya tadi. Singkat cerita, sesuai petunjuk Abdul Rahim yang memimpin perjalanan, tibalah mereka di sebuah tempat yang diyakininya sebagai daerah asal cahaya itu.

Saat itu, di sana masih berhutan belantara. Kemudian hutan-hutan itu mereka tebang dan bersihkan untuk dijadikan perkampungan. Suatu hari sambil melepas lelah, setelah capek bergotong-royong, Abdul Rahim menanyakan pada rekan-rekannya, apa nama yang cocok ditabalkan untuk tempat pemukiman baru itu. Ada beberapa nama yang diusulkan mereka, tapi dirasakan tidak ada yang cocok.

Seorang di antara mereka, sambil duduk-duduk membersihkan getah rotan yang lengket di tangannya, mengusulkan sebuah nama. “Untuk apa capek-capek memikirkan nama. Bagaimana kalau kita namai saja Awe Geutah?” tanya orang itu. Usulan itu pun diterima Abdul Rahim dan rekan-rekan mereka yang lain. Nah, sejak saat itulah tempat pemukiman baru mereka itu dinamakan Awe Geutah. 

Sumber : atjehcyber.net
 gk. Syik Awe Geutah adalah ulama asal Mekkah yang datang ke Aceh pada masa Sultan Badrul Munir Jamailullail bin Syarif Hasyim (1703-1726). Sejak Azyumardi Azra meneliti jaringan ulama Nusantara pada abad XVII-XVII, didapati hubungan Aceh dengan Haramayn (Mekkah dan Madinah) telah membawa gagasan pembaharuan Isl‚m di Nusantara. Maka kehadiran Chik Awe Geutah ke Aceh tidak lepas dari jaringan ulama pada abad ke-17 dan 18 itu.

Sumber Artikel : https://www.alhaq.xyz/detailpost/mengenal-tgk-syik-awe-geutah-ulama-asal-mekkah-yang-datang-ke-aceh
Fanspage : ALHAQ
Tgk. Syik Awe Geutah adalah ulama asal Mekkah yang datang ke Aceh pada masa Sultan Badrul Munir Jamailullail bin Syarif Hasyim (1703-1726). Sejak Azyumardi Azra meneliti jaringan ulama Nusantara pada abad XVII-XVII, didapati hubungan Aceh dengan Haramayn (Mekkah dan Madinah) telah membawa gagasan pembaharuan Isl‚m di Nusantara. Maka kehadiran Chik Awe Geutah ke Aceh tidak lepas dari jaringan ulama pada abad ke-17 dan 18 itu.

Sumber Artikel : https://www.alhaq.xyz/detailpost/mengenal-tgk-syik-awe-geutah-ulama-asal-mekkah-yang-datang-ke-aceh
Fanspage : ALHAQ