Sahabat, Pagar Itu, Sales Mobil dan Cerita Absurd di Kota Bireuen
Pernahkah kalian memiliki sahabat yang jika diingat kembali, seluruh memorinya berisi perpaduan antara perjuangan getir dan kejadian paling tidak masuk akal? Bagiku, sosok itu hadir sejak tahun 2012.
Semua bermula di Kampus Almuslim. Sebenarnya, aku sudah melihatnya lebih dulu saat dia membayar SPP bersama teman SMA-ku. Tapi jujur saja, saat itu aku tidak fokus padanya aku hanya fokus pada teman SMA-ku. Baru kemudian, di ruang pengisian KRS, takdir mempertemukan kami secara resmi. Kami merasa cocok, punya banyak kesamaan, dan semakin akrab lewat obrolan panjang di Facebook—tren wajib masa itu.
Dia itu asyik, meski bagi yang tidak kenal akan menganggapnya pendiam dan tertutup. Tapi kalau dia sudah percaya padamu, kamu akan tahu betapa baik hatinya dia.
Nasib CV di Pagar
Salah satu memori yang paling membekas adalah saat kami melamar pekerjaan bersama. Bayangkan, dengan penuh harapan kami membawa map berisi CV, namun sampai di lokasi, kami justru diminta meletakkan CV tersebut begitu saja di depan pagar.
Sampai hari ini, kami sering bertanya-tanya: Ke mana perginya berkas perjuangan itu? Keyakinan kami, CV itu mungkin sudah berakhir di tong sampah atau hancur lebam terkena air hujan di pinggir pagar. Sebuah awal perjuangan yang cukup "tragis" namun lucu jika diingat sekarang.
Plot Twist "Sales Mobil"
Ada satu kejadian yang paling membuat kami geleng-geleng kepala. Suatu hari, kami mendapat panggilan interview dari salah satu lowongan yang kami lamar. Kami datang dengan semangat, mengira akan diinterview untuk posisi admin atau staf konter sesuai harapan kami (atau setidaknya itu yang kami ingat saat melamar).
Tapi apa yang terjadi? Tiba-tiba di ruang interview, kami ditawari menjadi sales mobil!
Padahal kami sama sekali tidak punya dasar atau niat ke sana. Kami hanya bisa saling lirik, menahan tawa sekaligus bingung. Bukannya bermaksud menolak pekerjaan, tapi rasanya sangat jauh dari apa yang kami bayangkan. Itulah momen di mana kami sadar bahwa mencari kerja terkadang penuh dengan kejutan yang tak terduga.
Kejadian Absurd: Jauh-jauh ke Mall Bireuen Hanya untuk...
Ada satu momen yang benar-benar "berword-word" (tak bisa berkata-kata). Suatu malam setelah salat Isya, kami memutuskan pergi ke mall di Kota Bireuen. Niatnya sederhana: cuci mata karena sejak mall itu berdiri, kami belum pernah ke sana.
Awalnya normal, kami melihat-lihat baju. Namun tiba-tiba, dia bilang ingin buang air besar (boker). Bayangkan, kami menempuh perjalanan jauh ke kota hanya untuk menemaninya boker di mall! Setelah ritual itu selesai, kami tidak jadi beli apa-apa dan langsung pulang. Benar-benar pengalaman absurd yang sulit dilupakan.
Jarak, Kesalahpahaman, dan Doa Tulus
Waktu kemudian memisahkan kami. Aku merantau ke Banda Aceh, dan dia melangkah ke pedalaman Geumpang, Pidie, untuk mengajar. Kami sempat mengatur jadwal untuk bertemu, namun rencana itu kandas karena hal di luar kendali kami.
Di masa itu, aku sadar lingkungan mengajarnya sangat toxic. Itulah mengapa terkadang aku bersikap sangat keras padanya. Aku hanya ingin dia punya mental baja di perantauan agar tidak di dizalimi orang lain. Tidak ada maksud jahat, aku hanya ingin dia kuat.
Namun, aku juga sadar ada momen di mana aku membuatnya kecewa berat. Sesuatu yang tak bisa kubagikan di sini, tapi terus mengganjal di hati. Untukmu sahabatku, aku berharap kamu mengerti keadaanku saat itu. Aku memohon maaf dan ampun atas segala sikapku yang melukaimu.
Penutup yang Manis
Kini, dia sudah hidup bahagia bersama istri dan putri kecilnya yang lucu. Meski komunikasi kami menipis karena dia fokus pada keluarganya, doaku tidak pernah putus.
Semoga kamu sehat terus dan bahagia, kawan. Terima kasih sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupku sejak 2012. Aku bangga melihatmu tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat sekarang. Maafkan aku, dan teruslah berbahagia.
Oleh : Pencerita Kalem

EmoticonEmoticon