Mengenal Arsitektur Tradisional Serambi Mekah
Aceh kaya akan warisan budaya, salah satunya tercermin melalui arsitektur rumah adatnya. Selama ini, banyak orang hanya mengenal Rumoh Aceh sebagai ikon rumah tradisional daerah ini. Padahal, masyarakat Aceh juga mengenal jenis rumah adat lain yang bernama Rumoh Santeut.
Meski sama-sama berbentuk rumah panggung khas suku Aceh, keduanya memiliki perbedaan yang sangat kontras dari segi fungsi, struktur, hingga status sosial. Yuk, simak perbedaan mendalam antara Rumoh Santeut dan Rumoh Aceh berikut ini!
1. Status Sosial dan Pengguna
Perbedaan paling mendasar dari kedua rumah adat ini terletak pada strata sosial pemiliknya di masa lalu.
Rumoh Aceh: Merupakan rumah bagi masyarakat kelas atas, bangsawan, atau keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi tinggi. Ukurannya yang besar dan megah menjadi simbol kemakmuran.Rumoh Santeut: Merupakan rumah tinggal bagi masyarakat biasa, petani, atau kalangan kelas menengah ke bawah. Desainnya dibuat lebih sederhana untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa biaya yang besar.
2. Struktur Tinggi Panggung
Kedua rumah ini sama-sama mengadopsi konsep rumah panggung untuk menghindari serangan hewan buas dan banjir, namun ketinggian kolong rumahnya berbeda.
Rumoh Aceh: Memiliki tiang penyangga yang sangat tinggi. Jarak antara tanah dengan lantai rumah bisa mencapai 2,5 hingga 3 meter. Kolong yang luas ini sering digunakan untuk tempat menenun atau menyimpan alat pertanian.Rumoh Santeut: Memiliki tiang penyangga yang lebih pendek. Jarak lantai dari permukaan tanah umumnya hanya berkisar antara 1,5 hingga 1,8 meter. Bagian bawah rumah ini biasanya hanya digunakan untuk menyimpan kayu bakar atau mengikat hewan ternak.
3. Desain Atap dan Ketinggian Lantai (Santeut)
Nama "Santeut" sendiri sebenarnya merujuk pada ciri khas arsitektur lantai rumah tersebut.
Rumoh Aceh: Lantai bagian dalam rumah memiliki ketinggian yang bervariasi (berundak) untuk memisahkan ruang tamu, ruang keluarga, dan dapur. Atapnya berbentuk pelana yang tinggi dan sangat megah.Rumoh Santeut: Kata santeut berarti rata atau sama rata. Lantai dari depan hingga belakang rumah dibuat sama tinggi tanpa undakan. Desain atapnya juga dibuat lebih rendah dan sederhana guna menghemat material bangunan.
4. Ornamen dan Ukiran
Detail estetika pada dinding dan tiang rumah juga menjadi pembeda yang sangat jelas.
Rumoh Aceh: Dipenuhi dengan ukiran rumit dan hiasan dinding yang bernilai seni tinggi. Motif ukiran biasanya mengadopsi bentuk flora (tumbuh-tumbuhan), fauna, atau pola geometris Islami.Rumoh Santeut: Hampir tidak memiliki ukiran sama sekali. Dindingnya polos, terbuat dari papan kayu atau anyaman bambu (pelepah rumbia) yang fungsional tanpa dekorasi yang rumit.
5. Kompleksitas Ruangan
Pembagian ruang dalam tradisi Aceh diatur berdasarkan fungsi adat, namun kapasitasnya berbeda pada kedua rumah ini.
Rumoh Aceh: Memiliki struktur ruangan yang pakem dan luas, minimal terdiri dari tiga ruangan utama (seuramoe keue atau serambi depan, seuramoe teungoh atau serambi tengah, dan seuramoe likot atau serambi belakang) serta bisa ditambah hingga lima atau tujuh ruangan sesuai kebutuhan. Rumoh Santeut: Memiliki ruangan yang lebih terbatas dan minimalis. Fungsi ruang tamu dan ruang keluarga sering kali menyatu karena keterbatasan lahan dan ukuran bangunan.
Kesimpulan
Meskipun berbeda secara fisik dan strata sosial, baik Rumoh Aceh maupun Rumoh Santeut sama-sama mencerminkan kearifan lokal masyarakat Aceh yang menjunjung tinggi nilai Islami, kebersamaan, dan adaptasi terhadap alam. Rumoh Aceh menampilkan kemegahan estetika, sedangkan Rumoh Santeut menampilkan kesederhanaan yang fungsional.
EmoticonEmoticon